AGE OF YOUTH EPISODE 4

Episode 3 <<<

Membenci seseorang adalah hal yang sangat wajar. Bahkan, aneh rasanya jika dalam hidup ini tak ada orang yang bisa kita benci…

Sadarkah kita, dibalik kebencian itu mungkin ada sebuah rasa kasih sayang.. Entah itu cinta atau hanya sekedar peduli, semakin kita membenci seseorang, justru akan membuat kita semakin bisa melihat ketulusan dan isi hatinya…


== EPISODE 4 ==

[ My dream is to be a company employee ]

 

Jin Myung sunbae….

Wajahnya yang datar, dan sikapnya yang tak banyak tingkah, sepertinya berhasil membuat kita selalu penasaran.. Apa yang dipikirkannya? Mengapa dia bertindak seperti itu? Sebenarnya orang seperti apakah dia???

Di dalam bis, Jin Myung duduk sendirian sembari mendengarkan musik dari headset-nya. Sambil melihat keluar, terdengar suara narasinya yang menuturkan bahwa dirinya pernah ingin dianggap spesial oleh orang lain. Bahkan, setidaknya ia ingin dianggap sebagai orang yang berada di atas rata-rata dari yang lainnya.

Ia tiba disebuah rumah sakit, kemudian berjalan lurus memasuki sebuah ruangan. Di dalamnya ada seorang lelaki muda yang terbaring tak sadarkan diri. Beberapa saat ia, terdiam dan melihatnya dengan tatapan kosong. Hingga, masuklah seorang wanita parubaya yang ternyata adalah ibunya.

“Kenapa kamu mask kesini? Seharusnya tunggu saja di depan!”

Jin Myung tak merespon perkataan tersebut, ia malah mengeluarkan sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang untuk ibunya. Kemudian, ia pun pergi meninggalkan ruangan itu, sesuai yang diminta ibunya barusan….

Keesokan harinya, Jin Myung bekerja di sebuah rumah sebagai pembantu untuk bersih-bersih. Setelah beres, ia langsung bergegas pergi lagi, karena pekerjaan lain sudah menunggunya. Namun, si pemilik rumah menahannya, memintanya untuk tidak terburu-buru, karena  ingin memberikannya makanan (padahal sih, makanan sisa yang gak kemakan…).

Kejadian ini, membuatnya harus ketinggalan bis. Entah bagimana caranya, ia pun pada akhirnya bisa sampai di restoran, badannya basah kuyup karena di jalanan hujan sangatlah deras. Ia pun bergegas mengganti pakaiannya untuk mengenakan seragam pelayan.

Kedatangannya yang terlambat, dilihat secara lansgung oleh manajer-nya. Namun, ia bersikap profesional dan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.

Dirumah, para wanita sedang asyik memasak omlete, kemudian mewarnai gambar bersama-sama. Mereka memuji keuletan dan kegigihan Jin Myung.

“Setelah semua pekerjaannya yang sangat melelahkan itu, Tetap saja gajinya dalam sebulan lebih kecil jika dibandingkan dengan uang yang didapatkan Yi Na dari seorang ‘pelanggan’-nya…” tukas Ye Eun

Jam bekerja telah selesai. Sebelum pulang, Jin Myung menghadap manajer-nya secara langsung, meminta maaf karena dirinya terlambat hari ini. Manajer-nya terlihat sedikit marah, namun ia mengatakan jika dirinya memaafkan Jin Myung asalkan, kejadian ini tak terulang lagi di kemudian hari..

Diluar masih hujan deras, Jin Myung yang tak membawa payung hendak meneduh sebentar dipinggiran. Namun, muncul Jae wan yang langsung membawakan payung tepat dihadapannya. Tentu saja, ia pn lansgung menawarkan diri untuk memayungi Jin Myung hingga menuju ke halte bis.

Tiba di halte, Jin Myung memecah keheningan diantara mereka dengan mengatakan sesuatu… Sesuatu yang selalu berada di fikirannya ketika berada di dekat Jae Wan..


“Tolong jangan bersikap baik kepadaku. Karena,… jika kamu terus-terusan bersikap baik, namun tiba-tiba berhenti, maka aku akan mengalami masa yang sangat sulit…”

= Jin Myung =


Bis-nya telah tiba, Jin Myung-pun masuk kedalam dan duduk di salah satu kursi. Ia melihat sepatu usangnya yang sudah tak layak pakai, basah karena terkena hujan hari ini. Tiba-tiba, Jae Wan masuk dan langsung duduk disampingnya. Jin Myung cukup terkejut, karena ini bukanlah bis menuju rumah Jae Wan.

“Hmmm.. bolehkah aku terus dan selalu bersikap baik kepadamu??? Boleh, kan???” ungkap Jae Wan

Jin Myung nampak kebingungan, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia memalingkan wajahnya, melihat ke arah jendela. Berusaha keras untuk menahan senyumannya, namun ia gagal dan kita akhirnya berhasil melihat senyuman kecil dari bibirnya.

Turun dari bis, Jae Wan lanjut mengantarkan Jin Myung hingga kedepan tempat tinggalnya. Tak ada obrolan apapun, keheningan diwarnai bunyi air hujan yang menetes diatas payung yag mereka pakai berdua membuat suasananya jadi sagat amat romantis.

Bak pasangan yang baru jadian, Jae Wan meminta Jin Myung untuk masuk ke dalam lebih dulu dan dengan patuhnya Jin Myung melakukan hal tersebut. Meskipun sebelumnya, Jin Myung sempat mengomeli Jae Wan, bahkan menyebutnya bodoh karena rela ketinggalan bis menuju rumah, hanya karena ingin mengantarnya pulang. Jae Wan tersenyum, menjawab jikalau itu bukanlah hal besar, karena ia masih bisa bermalam di sauna terdekat.

Di dalam rumah, kedatangan Jin Myung lansgung disambut hangat oleh teman-temannya. Namun, ia tak mempedulikan itu dan lansgung berlari lurus ke arah balkon. Ia membuka jendelanya, tersenyum sambil melambaikan tangan memberikan kode agar Jae Wan segera pulang.

“Unni…. ada apa??” teriak Ye Eun yang berhasil membuat Jin Myung kaget dan secara refleks menutup jendela hingga jari telunjuknya terjepit dan mengakibatkan kukunya bengkak…

———————————————————————–

Ji Won, Ye Eun dan  Eun Jae sibuk mewawancarai beberapa ‘calon’ penghuni baru. Calon pertama terlihat cukup rapih, sopan dan kalem. Awalnya, mereka nampak setuju untuk menerimanya, namun pemikiran mereka berubah setelah mendapati fakta bahwa perempuan itu ‘terlalu’ menjaga kebersihan dan cenderung jijik-an. Sebenarnya, itu adalah hal yang bagus…. tapi, ketika tinggal bersama, kita tak akan tahan jika harus menghadapi orang seperti itu setiap hari…

Sementara itu, Yi Na sedang berbaring di kasur apartemen barunya. Ruangannya terlihat masih kosong, belum banyak perabotan atau pajangan yang terpasang. Terlihat jika ia berusaha untuk menikmati suasana barunya, namun helaan nafas yang pajang, menandakan jika sebenarnya masih ada suatu beban yang mengganjal di fikirannya.

Eun Jae kaget ketika melihat Jin Myung sedang minum bir sambil duduk di teras balkon sendirian. Ia pun lansgung berlari menghampiri Ji Won dan Ye Eun untuk melaporkan hal ini. Namun, respon mereka biasa saja, “Kamu baru tahu ya…. Itu tuh ritual rutin Yoon Sunbae setiap malam minggu…” ujarnya

Memang benar,… itu adalah kebiasaannya. Jika sebelumnya, Jin Myung selalu memikirkan uang dan pekerjaan, kali ini fikirannya dipenuhi oleh Jae Wan. Wajah tampan dan senyuman teduhnya berhasil membuat Jin Myung jadi gelisah tak menentu.

———————————————————————–

Keesokan harinya….

Eun Jae diinterogasi oleh Ji Won dan Ye Eun. Mereka bahkan, menggelitikinya supaya Eun Jae mau bercerita tentang pria yang digadang-gadang berhasil membuat hati wanita lugu dan polos sepertinya berbunga-bunga. Jelas saja, Eun Jae menolak dan berusaha untuk menutup mulutnya rapat-rapat.

Muncullah Jin Myung,… Berbeda dengan biasanya, kali ini ia duduk di dekat mereka dan ikut-ikutan megorek-ngorek informasi dari Eun Jae. Karena tersudutkan, akhirnya mau tak mau Eun Jae-pun menceritakan kejadian saat dia ikut dalam rekreat jurusannya.

FLASHBACK

Hari sangat panas dan terik… Semua orang membawa barang bawaan yang lumayan banyak, termasuk Eun Jae. Badannya yang mungil harus membawa tas dan karpet gulung yang bahkan bisa dikatakan lebih besar daripadanya.

Dari belakang, muncullah Jong Yeol yang langsung mengambil semua barang bawaan Eun Jae. Sayangnya,… perilakunya itu disalahartikan, Eun Jae menganggap Jong Yeol sedang menggodanya ‘lagi’.

Mendengar hal tersebut, Jong Yeol-pun bertindak konyol dengan mengembalikan semua barang yang telah dibawakannya ke tangan Eun Jae lagi dan langgung berjalan pergi begitu saja.

Tak disangka-sangaka… Muncullah seorang pria dengan dandanan vintage ala-ala retro yang langsung menawarkan bantuan untuk membawakan barang-barang Eun Jae. Tak bisa berkata-kata, Eun Jae hanya terdiam,… terpana melihat sosok pria yang sepertinya dalah kakak tingkatnya tersebut….

FLASHBACK END

Jin Myung pergi bekerja di restoran… Di ruang ganti, ia sedikit memoles bibirnya dengan lipstick dan juga tak lupa untuk membalut jari telunjuknya yang terluka karena terjepit jendela tempo hari.

Jam kerjanya terlewati dengan lancar,.. Meskipun sesekali, Jin Myung dan Jae wan saling curi-curi pandang.. melemparkan senyuman manis pertanda ada sesuatu yang spesial diantara mereka.

Sepulang kerja, seluruh pegawai restoran akan makan-makan bersama. Jae Wan berusaha mencari Jin Myung, namun tanpa diketahuinya Jin Myung telah pergi lebih dulu karena harus bekerja part-time di tempat yang lainnya.

Saat ini, Jin Myung sedang bekerja di minimarket. Ia membuka bukunya untuk belajar, namun konsentrasinya terganggu ketika melihat sepasangan kekasih yang tertangkap kamera CCTV sedang bermesraan di pojok ruangan. Entah apa yang difikirkannya, namun Jin Myung terus saja ingin melihatnya..

Suara pintu yang terbuka, membuat ia tersadar dari lamunannya. Yang menarik, orang yang datang itu adalah Jae Wan..

“Ahh.. kenapa didaerah sini banyak sekali minimarket. Ini tempat kelima yang kudatangi…” keluh Jae Wan

Jin Myung bertanya-tanya, apakah mungkin Jae Wan datang kesini hanya untuk menemuinya. alih-alih menjawab, Jae Wan malah menariknya keluar dan membelikannya minuman.

Sementara itu, Yi Na masih saja termenung terdiam sendirian di dalam kamar barunya. Ia bingung harus melakukan apa. Ia mengambil ponselnya, tertarik untuk membaca chat-chat lama di grup teman-teman satu rumahnya dulu. Tanpa sadar, ia terbawa suasana, teringat kenangan-kenang indah bersama mereka yang berhasil membuatnya tertawa lepas.

Pulang kerumahnya, Jin Myung terus-terusan tersenyum. Ada apakah gerangan???

Tadi, Jin Myun dan Jae Wan duduk berdampingan, membicarakan hal-hal ringan yang pastinya menarik untuk ‘calon’ pasangan baru seperti mereka. Seperti biasa, suasananya sangat hening dan kali ini tiba-tiba, Jae Wan memberikan sebuah cincin dari kawat kuning.

“Ini memang murahan, bahkan tak berharga… Tapi, aku memberikannya untukmu dengan penuh makna..” ungkap Jae Wan

Jin Myung lansgung tersenyum manis, seketika cincin itu terpasangkan di jarinya….

———————————————————————–

Eun Jae, Ji Won dan Ye Eun mewawancarai calon penghuni berikutnya,… Kali ini, terlihat bahwa wanita itu tipe yang pemalu.. Bahkan lebih pemalu dibandingkan Eun Jae. Mereka memutuskan untuk tak bertanya banyak hal, karena sudah mengetahui respon dan tanggapannya akan seperti apa. Merekapun mempersilahkannya untuk pulang, setelah melihatnya keluar, Ji Won terdiam sejenak.. Kemudian melohat ke arah loker dibawah rak sepatu.. “Jangn-jangan,… hantu itu yang membuat memerka sulit untuk mendapatkan penghuni baru…” ujarnya yang sontak lansgung membuat Eun Jae terlihat cemas.

Ye Eun berkencan dengan Doo Young, ketika mereka berjalan kaki ada sebuah kios kecil tempat menandatangani petisi mengeai perlindungan anak anjing. Dengan senyuman manisnya, ia mengajak sang pacar untuk ikut menandatanganinya…

Selanjutnya, mereka pergi ke bioskop, Ye En bertanya film apa yang ingin Doo Young tonton. Entah apa yang terjadi, Doo Young terlihat begitu kesal. Dengan ketus, ia mengatakan jika dirinya tak mau menonton dan mengajak Ye Eun untuk pulang saja.

Tak mau terjadi perdebatan, akhirnya Ye Eun menurutinya.. Dan disepanjang perjalanan, Doo Young tak berbicara ataupun melihat kearahnya.

Setibanya di depan rumah, Doo Young turun dan membukakan pintu mobil untuk Ye Eun. Suasananya masih panas, tatapan dengki terlihat jelas dari kedua bola mata Doo Young.

“Mmm… sebenarnya, apa salahku?” tanya Ye Eun

Awalnya Doo Young terdiam, namun beberapa saat kemudian, ia membuka mulutnya dan lansgung membentak Ye Eun habis-habisan. Menuduh bahwa perilaku Ye Eun saat ditempat penandatanganan petisi tadi sangatlah merendahkannya..

“Apa maksudmu menulis nama universitasmu? Kamu mau pamer pada orang-orang, kalau kamu masuk universitas yang lebih bagus dariku!!!!!”

Ye Eun berusaha menjawabnya, ia tentu saja mengelak, menjelaskan bahwa dirinya tak bermaksud seerti itu. Namun, Doo Young yang kadung emosi, malah menarik paksa Ye Eun keluar dari mobilnya hingga badannya lansgung terjatuh ke aspal (Asliiii…. ini kasar bangettttt…)

Untunglah, semua kejadian ini dilihat oleh Yi Na. Sejenak, ia melupakan kalau mereka sedang bertengkar, Yi Na-pun langsung membela Ye Eun dengan cara menghantam wajah Doo Young menggunakan tas-nya yang lumayan berat.

“Siapa dia? Pacarmu? Apa yang dilakukannya kepadamu!!!!”

Alih-alih menjawabnya, Ye Eun yang merasa malu lansgung berlari masuk kedalam rumah, kemudian mengunci dirinya di dalam kamar. Yi Na mengejarnya, berkali-kali ia menggedor pintu namun tak dibukakakn juga. Akhirnya, ia memilih untuk berteriak dari luar, ia mengungkapkan bahwa dirinya sangat amat tak menyukai pria itu, “Dia pacarmu? Putuskan dia sekarang juga!!!!!!”

Semua kata-kata Yi Na tak berhasil membuat Ye Eun sadar. Ia malah meneriaki Yi Na, memintanya untuk pergi dari rumah ini.

“Iya aku akan pergi!!!!” teriak Yi Na

Di sebuah toko sepatu, terlihat Jin Myung yang sedang memilah-milah sepasang sepatu yang cocok untuknya.. Namun, dari wajahnya, terlihat sebuah kebimbangan, entah apalagi yang sedang difikirkannya.

Ketika di resotan Jin Myung memberikan sebuah hadiah untuk Jae Wan, sebagai ucapan selamat atas penghargaan yang baru didapatkannya. Ternyata,… demi membeli hadiah tersebut, Jin Myung rela mengurungkan niatnya untuk membeli sepatu baru.

Tanpa mengetahui hal tersebut, Jae Wan nampak begitu senang saat menerimanya. Hadiah itu berisi sebuah alat asahan pisau. Untuk menunjukkan rasa bahagianya, Jae Wan bahkan terus-terusan mengasah pisaunya apalagi saat Jin Myung berjalan melewatinya.

Tetap saja, Jin Myung berusaha untuk tak tersenyum. Namun, saat dirinya jauh dari Jae Wan kita bisa melihat wajahnya yang berseri-seri…

Saat menaruh piring di salah satu meja pelanggan, secara tak sengaja jari telunjuk Jin Myung tertekan hingga membuatnya menyimpan piring itu dengan cara yang agak tidak halus. Dari jauh, manajer melihat kejadian itu, sehingga ketika jam kerja berakhir ia lansgung menemui Jin Myung di dalam ruangan istrirahat.

Suasananya sedang banyak orang. Tanpa ragu, pak manajer lansgung membentak, memaki dan bahkan mencabut plester di jari Jin Myung hingga membuat kukunya hampir terlepas.

“Kamu fikir… para pelanggan akan nyaman jikalau melihat kondisi kuku pelayan yang menjijikan seperti itu!” bentaknya

Semua orang yang melihatnya hanya diam, kebingungan harus menolongnya dengan cara apa. Dari dapur, Jae Wan melihatnya juga, ia pun tak bisa berbuat banyak, hanya berdiri menatap Jin Myung dengan tatapan penuh khawatir…

Jae Wan menunggu Jin Myung di depan pintu restoran,.. Namun, ketika hari semakin larut dan hampir seluruh pegawai telah pulang, ia tak berhasil melihat sosok Jin Myung yang lewat dihadapannya. Merasa cemas, ia pun masuk lagi kedalam untuk memastikannya sendiri. Sayangnya, di dalam telah kosong, semua ruangannya telah gelap dan tak nampak siapapun disana.

Ternyata, Jin Myung diajak pergi makan malam oleh manajernya. Loh bukannya tadi dia diamarahin?

Yupsss, memang benar. Namun pak manajer menjelaskan kalau kejadian tadi hanyalah ‘gimik’ semata. Sebenarnya, ia sangat memahami situasi dan kondisi Jin Myung, karena saat kuliah dulu, ia pun melakukan hal yang sama… Bekerja keras sambil kuliah…..

Jin Myung diantar pulang hingga kedepan rumahnya. Dan kebetulan, Jae Wan yang mengkhawatirkannya telah tiba lebih dahulu disana Dari kejauhan, Jae Wan memperhatikan kejadian itu dengan tatapan sendu dan cemburu (?)

Keesokan harinya, seluruh pegawai restoran dihebohkan setelah melihat Jin Myung yang tiba-tiba menempati posisi sebagai penjaga kasir. Hal itu, lambat laun, membuat Jae Wan mulai berfikir hal yang tidak-tidak tentang Jin Myung.

Di bar, Yi Na tengah duduk ditempat biasanya dan lagi-lagi sedang ada Jong Gyoo disampingnya. Tanpa ragu, Yi Na menceritakan seluruh keluh kesahnya. Kali ini, ia bercerita tentang mimpi buruk yang selalu menghampirinya.

Dalam mimpinya iut, terlihat jika dirinya tenggelam dan ada seseorang manusi atau bahkan monster yang menatapnya tajam.. Entah siapa itu, namun ia merasa bahwa isi mimpi itu sangat menyeramkan dan mengganggunya.

Seakan-akan mengetahui sesuatu, ekspresi wajah Jong Gyoo berubah jadi agak terkejut. Ia pun pamit ke toilet untuk membasuh wajahnya. Namun, saat kembali lagi, ia dibuat terkejut karena Yi Na sudah tak ada di tempat duduknya tadi.

Tak mau menduga-duga, Jae Wan-pun memilih untuk memastikannya sendri secara langsung. Saat pulang, Jae Wan mengejar Jin Myung yang hendak menaiki bis. Di depan bis, ia mencengkram tangan JIn Myung dan menceritakan kejadian yang kemarin dilihatnya.

Jin Myung terdiam sejenak, kemudian bertanya “Kalau aku menceritakannya apakah kamu akan mempercayaiku?”

Tanpa ragu, Jae Wang lansgung menganggukan kepalanya, memastikan bahwa dirinya akan mempercayai Jin Myung.

Setelah mendengar hal itu, Jin Myung malah melepas tangannya, kemudian berjalan pergi meninggalkan Jae Wan tanpa penjelasan apapun….

Ternyata, Yi Na telah mabuk berat. Tanpa sadar, ia malah pulang ke tempat tinggal lamanya. Eun Ja dan Ji on terdiam, tercengang dan terpana setelah melihat kemunculannya. Yi Na tak mengatakan apapun, dengan berjalan sempoyongan ia lansgung masuk ke toilet.

Saat keluar, barulah ia ‘sadar’ kalau ia mendatangi rumah yang salah. Ia pun meminta maaf, dan mengatakan jika dirinya akan pergi meninggalkan tempat ini sekrang juga. Tak sengaja, ia bertabrakan dengan Ye Eun hingga mereka berdua terjauh dilantai.

Dalam kondisi seperti itu, Yi Na masih saja mengingat kejadian tadi siang. Sekali lagi, ia memarahi Ye Eun memintanya untuk segera putus dengan pria itu.. “Dengarkanlah perkataanku… aku menyuruhmu putus dengannya karena aku tak ingin melihatmu terluka…”

Ye Eun jengah endengarnya, dan dengan sengaja ia pun mendorong badan Yi Na hingga terjatuh disampingnya. Bukannya bangun, Yi Na malah terlelap tidur hingga mengeluarkan suara dengkuran yang cukup keras.

Akhirnya, mereka memindahkan Yi Na untuk tidur di kamar lamanya. Ketika semua orang telah tertidur, JIn Myung masuk ke kamar Yi Na. Ia membawakanya selimut, kemudian menyelimutinya perlahan. Matanya menatap Yi Na dengan sendu, nampak jelas ada seuntai kata yang ingin diucapkannya saat melihat Yi Na.

Apakah itu???

Kita kembali ke hari dimana Jin Myung diantar pulang oleh pak manajer-nya. Di dalam mobil terjadi sebuah kejadian yang membuatnya tidak nyaman, Tiba-tina, pak manajer memegang pahanya sambil meyakinkan bahwa Jin Myung boleh menganggapnya sebagai paman dan bisa meminta bantuan apapun kepadanya.

Meskipun terlihat kikuk, Jin Myung memilih untuk tak berbuat apapun. Ia hanya bisa diam dan menerima perlakuan tidak sopan itu. Itulah alasan, mengapa dirinya tak bisa menjawab pertanyaan dari Jae Wan tadi…

“Selama ini aku selalu membencimu (Yi Na), karena kelakuanmu.. tapi, saat ini aku sadar kalau aku telah melakukan hal yang tak jauh beda dengan apa yang kamu lakukan. Hanya saja,.. kamu berani melakukannya secara terang-terangan, tapi aku tidak….” tutur Jin Myung

Sesaat setelah Jin Myung keluar, telihat Ye Eun yang memasuki kamar Yi Na sembari membawa sebuah selimut. Ia terdiam, tak mau melangkahkan kakinya lebih jauh lagi. Dalam hatinya, ia merasa lega karena melihat Yi Na yang nampaknya begitu nyaman dan pulas dalam tidurnya…

———————————————————————–

Esok paginya…

Yi Na terbangun, kelihatannya ia masih bisa mengingat apa yang dilakukannya tadi malam. Setelah merapikan pakaiannya, ia pun perlahan melangkahkan kakinya keluar kamar. Kebetulan, ini adalah hari Minggu dan semua penghuni sedang bersih-bersih.

Melewati mereka semua Yi Na berjalan dengan agak kikuk. Ia menyapa mereka semua, kemudian pamit pulang. Sebelum membuka pintu depan, langkahnya terhenti,.. tanpa menoleh kearah mereka semua ia menanyakan apakah dirinya boleh tinggal disini lagi..

“Ini memang aneh.. aku pergi lalu ingin kembali lagi,..” ujarnya

Ye Eun yang sedang menyapu lansgung terdiam, dirinya menjadi objek tatapan dari para penghuni yang lainnya…

Masih di hari itu juga, Ji Won beserta kawan-kawan sedang mewawancarai ‘calon’ penghuni berikutnya. Kali ini, ia terlihat normal,.. tak aneh atapun lebay. Setelah selesai melakukan sesi wawancara dan melihat wanita itu pegi, Ye Eun lansgung terdiam, seakan sedang memikirkan sesuatu..

“Mmmm… dia terlalu biasa aja.. bukankah akan lebih baik, kalau kita memiliki teman serumah yang agak ‘berbeda’….” ujarnya

Tiba-tiba, ponsel Jin Myung berbunyi. Itu adalah telpon dari ibunya, entah apa yang dibicarakan, namun setelah mendapat telpon itu, JIn Myung lansgung bergegas pergi menuju rumah sakit.

Saat berjalan di lorong, tatapannya terlihat begitu kosong. Di depan salah satu ruangan, ia melihat ibunya yang sedang menagis, meronta-ronta memohon dokter untuk menyelamatnya adiknya (pria yang kita lihat lagi koma, pas di awal episode ini…).Lambat laun, terlihat jika Jin Myung-pun ingin ikut menangis.

Namun, hal itu urung terjadi karena tiba-tiba muncul perawat yang mengabarkan kalau kondisi adiknya telah kembali normal. Baik ibu maupun Jin Myung, tak ada satupun dari mereka yang tertawa lega. Ibu malah menatap Jin Myung dengan datar dan Jin Myung sendiri, malah membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.

Dari sana, Jin Myung langsung bergegas pergi menuju restoran tempat kerjanya, kali ini ia berdiri diluar, menunggu Jae Wan selesai bekerja..

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Jae Wan muncul dihadapannya. Tanpa mengatakan apapun JIn Myung langsung berjalan mendekati Jae Wan dan mendaratkan kepalanya tepat di dada Jae Wan..

“Aku lelah… kali ini, adikku tidak jadi meninggal ‘lagi’.. beberapa tahun ini, aku selalu berharap agar dia meninggal.. Tapi, dia masih saja hidup…” keluh Jin Myung

Selanjutnya, Jin Myung bertanya apakah Jae Wan masih menyukainya. Dengan yakin, Jae Wan menjawab “Ya..”

Jin Myung menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian meminta Jae wan untuk berhenti menyukainya, “Aku akan merasa lemah kalau mengatahui ada orang yang menyukaiku. Dan jika aku lemah, maka itu adalah akhir dari kehidupanku…” ucapnya yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Jae Wan begitu saja.

Di balkon, Jin Myung duduk sendirian. Suara tangisnya terdengar oleh penghuni rumah yang lain. Eun Jae da Ye Eun melihatnya dari belakang. Sementara Ji Won, ia lasngung berjalan mendekati Jin Myung untuk menenangkannya.

“Aku menangis, karena kuku-ku lepas.. Ini sangat sakitt.. lebih sakit dari apa yang kubayangkan sebelumnya..” ucap Jin Myung sembari menangis sesegukan.

Ji Won memeluk Jin Myung erat-erat, dan tanpa sadar, perlahan ia-pun ikut-ikutan menangis. Dari belakang, baik Eun Jae maupun Ye Eun ikut-ikutan menangis juga, bagaikan mereka telah terikat satu sama lain, untuk memahami perasaannya masing-masing……..

== Bersambung ==


[ EPILOG ]

( Jin Myung )

Agak sulit kalau aku nulis pertanyaan demi pertanyaan. Soalnya, pas di-wawancara, Jin Myung sendiri cenderung memilih untuk menjawab singkat atau bahkan tidak menjawabnya sama sekali. Paling,.. hal yang patut digarisbawahi adalah ketika ia ditanya mengenai hantu yang ada di loker sepatu (Apakah kamu mengira bahwa itu merupakan hantu dari adikmu yang sedang koma????).. ia memang tak menjawabnya secara pasti, namun dari ekspresi wajahnya terlihat jika ia sedang memikirkan hal tersebut….


:::: NOTES ::::

Awwww…. Jin Myung-unni, rasanya pengen ikutan meluk dirimu..

Caranya Jin Myung mengungkapkan ‘kepedihannya’ tuh keren bangettt,… bukan dengan mengekspos masalahnya secara langsung. Tapi, mengekspresikannya dengan gesture-gesture sederhana, yang hanya orang-orang terdekatnya yang bakaln bisa memahami hal tersebut..

Di episode ini, Jin Myung ngeluarin semua ekspresinya.. dari mulai ketawa, malu-malu, sedih sampe nangis bombay. Di awal episode, udah dikasih adegan lovey-dovey tapi mendekati ending, sedihnya dia tuh bikin hatiku jadi ikutan berasa campur aduk.

Mimpinya untuk menjadi seorang ‘pegawai biasa’ adalah hal yang biasa aja kok, gak perlu dipertanyakan atau bahkan diperdebatkan. Hanya saja, dalam konteks kehidupannya yang sekarang, dia bahkan bisa mendapat pekerjaan yang lebih daripada itu. Tapi, kenapa??? Kenapa dia pengen hidup biasa aja????

Dan buat Yi Na,… aku salut bangettt sama aksinya di episode ini. Dari segi pengalaman, Yi Na pasti udah faham bangettt sama tingkah buruknya laki-laki, dan harusnya Ye Eun mau dengerin apa kata Yi Na. Tapi, namanya juga orang lagi musuhan..

Yang satu bilang apapun pasti gak bakalan didenger sama yang satunya lagi. Padahal, Ye Eun –pun sadar kalau sikap pacarnya itu kurang ajar. Tapi, di depan Yi Na, dia gak mungkin mau mengakui hal itu. Kenapa??? Karena ‘gengsi’ donggg, tentunya…

Dan yang gak bisa diabaikan adalah sosok Ji Won yang menurutku terlalu ‘perfect’ sebagai seorang sahabat. Jadi, pengen dehhhh, punya temen kayak Ji Won –_-

Di satu sisi, dia sosok yang periang dan heboh bangetttt, tapi di sisi yang lain, dia bisa jadi tipe sahabat penenang dikala kesedihan teman-temannya……

>>> Episode 5 <<<

Advertisements

17 thoughts on “AGE OF YOUTH EPISODE 4

  1. Pingback: AGE OF YOUTH EPISODE 3 | my-eternalstory

  2. Mba … semangat ya bikin sinop age of youth ini, ceritanya bagus. Sayang bgt tenggelam krn drama2 yg keren akhir2 ini. Saya nunggu dan slalu setia nunggu sinop nya ya mba… hwaiting

    Like

    • Semangattssss terus sih kalo nulis mah, cuman memang belum dapet waktu luag yang banyak. Jadi, disela-sela kosong diusahain nulis. Maaf yaa, karena aku update-nya gak ada jadwal pasti. Bisa tiba-tiba seminggu lebih dari satu episode. Bisa juga, gak di-update sama sekali 😦

      Like

  3. Iyaaaaaaa sampe heran ini anak dididik kayak gimana sampe bisa jadi cewek nyenengin kayak gitu, meski yah ada rahasianya di ending hehe
    Di drama ini selain kagum sama ceritanya jg kagum banget sama artisnya yang udah bikin drama ini ngena banget, kerasa lah perasaan mereka t.t

    Like

      • Iya lia…kasian karena swnim bilang ni drama sempet ditolak channelnlain sblm dikasih ke jtbc, mereka yg ndesak swnim buat bikin 12 episode aja dr rencana awal swnim 16 t.t
        Gatau ya mereka kalo yg dicari tuh malah drama beginian ckck
        Btw kata swnim karakter song ji won jg mulai dicritain di episode ini, cm belum kelaaaaaaar nulisnya huhu :((
        Source: twitternya mbak hazuki

        Like

  4. Pingback: AGE OF YOUTH EPISODE 5 | my-eternalstory

  5. Pingback: SINOPSIS Age of Youth Episode 1 - Terakhir (Lengkap)

  6. Pingback: Sinopsis Age Of Youth Episode 1 - Terakhir « Kdramastory

Ayo tinggalkan jejakmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s