MOON LOVERS: SCARLET HEART RYEO EPISODE 4-2

<<< Sebelumnya (Episode 4-1)

Hae Soo tengah berbaring lemah dikasurnya, terlihat bayangan seseorang yang berdiri di depan pintu kamarnya. Siapa lagi, kalau bukan Wang Wook.

17

“Soo… Jika kamu masih belum tidur, aku telah meninggalkan obat didepan pintu. Jangan lupa untuk menggunakannya.. Juga, aku berharap, agar kamu bisa melupakan semua kejadian hari ini….” pinta Wang Wook

Hae Soo bingung harus berbuat apa, akhirnya ia-pun memilih untuk diam seribu bahasa tak mengatakan apapun, hingga membuat Wang Wook pergi begitu saja.

Setelah melihat kepergian Wang Wook, langsunglah Hae Soo bangkit dari tempat tidurnya dan berlari keluar untuk mengejar Wang Wook. Sayangnya, sudah tak ada siapapun disana, hingga membuat Hae Soo hanya bisa berdiri sendirian ditengah dinginnya malam..

Hingga akhirnya, Hae Soo membalikan badannya dan terkejut ketika melihat sosok Wang wook yang tengah berdiri dibelakangnya, lagi-lagi ia hanya bisa terdiam..

Wang Wook berjalan menghampirinya, kemudian membeikan sekotak obat yang ia taruh ditangan Hae Soo secara langsung..

“Maaf, tadi aku berpura-pura tidur karena terlalu malu untuk bertemu denganmu…” ungkap Hae Soo

“Aku tahu itu.. Kamu pasti masih merasa kesakitan, kan?” tanya Wook

19

“Bukan karena cambukan itu.. Aku sakit, karena megingat dia memperlakukanku dengan cara yang seperti itu. Apakah di istana ini, semuanya selalu dilakuan dengan cara itu?… Apakah ini hanyalah tempat dimana kamu akan dihargai jika kamu adalah anak dari ‘seseorang’? Manusia bisa diikat layaknya seekor binatang dan juga dipukuli seenaknya.. Apakah selalu seperti ini kehidupan di Goryeo???…” keluh Hae Soo dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang bergetar

Wang Wook mendengarkan keluhan Hae Soo dengat sangat serius. Wajahnya berubah pilu, ketika melihat ekspresi kesedihan yang terpapar nyata dari wajah Hae Soo.

“Maaf… karena aku tak bisa menghentikan kejadian tadi… Bagaimanapun juga, aku akan berjanji padamu, tak akan pernah ada seorang-pun yang boleh memperlakukanmu dengan kasar seperti tadi lagi… Percayalah padaku…” ujar Wook semari memegang pundak Hae Soo erat-erat.

Sejenak, suasananya seakan membeku… Hae Soo tak sanggup menatap mata Wang Wook secara lansgung, ia memilih untuk melihat kebawah.. Sekilah, kembalilah ia teringat akan kebaikan Madam Hae kepadanya, “Kalau aku membiarkannya lebih dekat lagi denganku, itu berarti aku telah melukai Madam Hae..” gumamnya dalam hati

Sontak saja, Hae Soo langsung menggeserkan badannya dan pamit untuk kembali kedalam kamarnya lagi, meninggalkan Wang Wook yang menatapnya pilu….

———————————————————————–

Esok paginya,…

Hae Soo berdiri sendirian di pinggir sungai. Ia melamun, memikirkan kejadian tadi malam dan rasa bersalahnya terhadap Madam Hae. Tak hentinya, ia berjalan maju dan mundur.. Hingga akhirnya, kepalanya menabrak badan Wang So yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

Seketika itu juga, ia langsung melupakan beban fikirannya dan malah menggurutu mengomentari sikap Wang So kepadanya tempo hari..

“…‘Dia Milikku’, apa maksudnya perkataan itu! Kenapa kamu mengatakannya dan membuat kesalahfahaman diantara semua orang!” ujar Hae Soo

“Kamu tak tahu caranya berterimakasih? Aku telah menyelamatkanmu dari siksaan.. Sebelum membahas hal itu, seharunya kamu lebih dulu berterimakasih kepadaku!” tutur Wang So

Mereka-pun terus menerus berdebat, mulai dari membahas alasan hiasan rambut miliknya yang tiba-tiba bisa berada di tangan Hae Soo, hingga alasan mengapa Hae Soo sekan-akan tak pernah memiliki rasa takut terhadapnya.

“Kamu tak terlihat seperti orang yang harus kutakuti.. ” jawab Hae Soo singkat

Terakhir, Hae Soo meminta agar Wang Wook tak pernah menyebutnya ‘milik’ siapapun lagi… “Aku ini manusia,.. buan barang atau binatang yang bisa dimiliki oleh seseorang…”

22

Wang Wook menatapnya tajam, kemudian mencondongkan badannya ke arah Hae Soo, “Lantas,.. haruskah aku memanggilmu ‘orang’-ku?….”

Hae Soo malah jadi kikuk, kebingungan harus berkata apa. Akhirnya, ia meminta Wang So untuk mencari penggilan lain dan langsung berlari kabur begitu saja, meninggalkan So yang malah tersenyum geli setelah melihat kelakuannya…

———————————————————————–

Hae Soo ditemani Chae Ryung, sedang berjalan-jalan di pasar. Secara tak sengaja, ia melihat sosok pangeran ke-14, yaitu Wang Jung yang sedang bertarung dan tiba-tiba diseret paksa oleh beberapa orang pria tak dikenal. Merasa panik, Hae Soo meminta Chae Ryung untuk meminta bantuan di istana, sementara dirinya memilih untuk membuntuti kemana Wang Jung dibawa pergi.

Saat tengah berlari, kebetulan Wang So juga sedang mengendarai kuda dan melihatnya….

24

Wang Jung dibawa kedalam sebuah hutan bambu. Terungkap fakta, bahwa orang yang menyuruh para pria kasar itu adlah orang yang tangannya putus akibat ulah Ratu Yoo, yang notabennya adalah ibu dari Wang Jung, “Hanya karena kau pernah dikalahkan olehku, aka ibumu telah memutuskan lenganku. Maka dari tu,.. hari ini aku akan memutuskan salah satu lenganmu juga!” ujarnya

Hae Soo melihat semuanya dari jauh. Ia sudah panik setengah mati, kebingungan harus melakukan apa agar bisa menolong Wang Jung.

Setelah melihat kesekelilingnya, akhirnya Hae Soo berlari ke kerumunan para penjahat itu dengn hanya membawa sebatang ranting pohon yang lumayan panjang. Ia berteriak histeris, mengacam akan memukul bagian selangkangan mereka.

Sejenak, serangan Hae Soo itu nampaknya berhasil. Namun, hal itu tak bertahan lama, karena jumlah penjahat terlampau banyak jika harus diserang satu-persatu dengan cara manual seperti itu.

26

Di kediamannya, Wang Wook, Yeon Hwa dan Ratu Hwangbo tengah berbinccang-bincang santai sembari meminum teh. Yeon Hwa membahas permintaan Madam Hae yang menyarankan agar Wang Wook menikah lagi. Namun, dengan ketusnya Wook langsung menolak hal itu, mengatakan dengan jelas bahwa dirinya sama sekali tak mau melakukannya.

Nampaknya, Ratu Hwangbo juga menyutujui pilihan Wook. Ia bahkan membentak Yeon Hwa, mengatakan bahwa Madam Hae-lah yang bisa membuat mereka kembali menginjakan kakinya di wilayah Songak.

Tiba-tiba, datang Chae Ryung yang lansgung berteriak meminta bantuan Wang Wook utnuk menyelamatkan Hae Soo.. Tanpa fikir panjang, Wang Wook langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlari keluar. Dengan sangat gesit, ia memacu kudanya agar bisa segera sampai dan menyelamatkan Hae Soo.

Setibanya disana, suasana sudah begitu kacau. Hae Soo dan Wang Jung nampak begitu kewalahan untuk melawan para penjahat itu. Berkali-kali, mereka harus terjatuh, bahkan terkena pukulan.

Tanpa rasa takut sedikitpun, Wang Wook lansgung turun dari kudanya dan menghampiri Hae Soo yang sedang berdampingan dengan Wang Jung, “Apa kalian baik-baik saja? Tidak terluka?”

Wang Jung menjawab jika dirinya terluka, namun ia masih bisa menahannya. Sementara Hae Soo, ia malah tersenyum takjub dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja.

Segera, Wang Wook mendorong mereka ke pinggiran, sementara dirinya berjuang sendirian demi melawan seluruh pria itu. Setelah berjuang keras, tetap saja ia tak bisa merubah keadaan karena pada kenyataannya jumlah pernjahat itu terlalu banyak.

28

Disaat-saat yang genting ini, tiba-tiba datanglah Wang So yang langsung menatap tajam kearah semua penjahat itu, “Kalian bahkan tak berlari, setelah melihatku! Begitu beraninya-kah kalian atau… kalian semua memang ingin mati ditanganku” tegas Wang So yang lansgung mengacungkan sebilah pedang kerah salah satu penjahat itu.

Sontak saja, semua penjahat itu langsung berlari terbirit-birit, tak terkecuali si pria bertangan buntung yang menjadi dalang dari penyerangan ini.

Akhirnya, Wang Jung dapat bernafas lega lagi,… Ia berterimaksih banyak kepada Wang Wook dan Wang Sook, terutama kepada Hae Soo yang telah menjadi orang terpenting dalam menyelamatkan tangannya dari kebuntungan.

“Aku akan selalu mengingat kejadian hari ini… Hidupmu akan kuanggap seperti hidupku sendiri. Mesipun aku harus mati, aku akan tetap menyelamatkanmu..” tutur Wang Jung kepada Hae Soo

Refleks, Hae Soo langsung memeluk Wang Jung, “Uuuhhh.. Pangeran kecilku…. Kamu sudah terlihat begitu tangguh dan kuat. Kelak, kamu akan menjadi pria hebat…” ucapnya

Perilaku Hae Soo ini, berhasil membuat para pria jadi kikuk melihatnya. Untunglah Hae Soo segera menyadari hal itu, dan lansgung melepaskan Wang jung dari pelukannya, “Maaf… dia mengingatkanku pada adikku..”

30

Wang Jung tersenyum faham, “Hae Soo.. unni..” panggilnya

Sontak panggilan itu membuat Wang Wook dan Wang So mengernyitkan dahinya. Namun, HAe Soo malah tersenyum bangga mendengarnya.

“Lihathah akan jadi pria seperti apa aku nantinya…” ujar Wang Jung

Dengan ceria, Hae Soo memberikan semangat kepada Wang Jung, “Hwaiting..” ucapnya

Lagi-lagi, para pria terdiam kebingungan. Kali ini, lantaran kosata yang diucapkan Hae Soo barusan tak pernah ada atau didengar oleh mereka dimanapun juga di wilayah Goryeo…

———————————————————————–

Kembali ke kediamannya, Wang Wook berjalan dengan cepat meninggalkan Hae Soo dibelakangnya. Ia bahkan, tak menggubris atau menoleh kebelakang sedikitpun, ketika Hae Soo terus-terusan memanggilnya.

Akhirnya, Hae Soo menghentikan langkahnya, berpura-pura mengerang kesakitan, mengatkan bahwa kakinya terluka. Mendengar hal itu, berhasil membuat Wang Wook membalikan badannya dan lansgung berlari memutar arah, demi menghampri Hae Soo.

Bukannya melihat kaki Hae Soo, Wang Wook malah menatap mata dan memegang pundak Hae Soo erat-erat, “Aku fikir aku telah kehilanganmu…” teriaknya

“Apa?” tanya Hae Soo heran

“Aku fikir… aku tak akan pernah bisa melihatmu lagi!” tegas Wang Wook

Suasananya lansgung hening seketika, Dengan mata yang mulai berkaca-kaca Wang Wook menatap Hae Soo dengan tajam. Perlahan ia mendekatkan wajahnya..

Awalnya Hae Soo tertegun kaget, namun seketika itu juga ia langsung memalingkan wajahnya, beriringan dengan Wang Wok yang juga melepaskan tangannya dari pundak Hae Soo.

Tak lama kemudian, datanglah Madam Hae beserta rombongannya yang tengah sibuk mencari-cari keberadaan Wang Wook beserta Hae Soo. Ia tersenyum lega, setelah melihat keduanya kembali dalam kondisi utuh dan selamat.

Hae Soo meminta maaf atas perilakunya yang lagi-lagi membuat keributan. Namun, Wang Wook malah menunjukkan wajah ketus, dan pergi begitu saja tanpa megatakan sepatah katapun…

———————————————————————–

Wang Jung mengganti pakaiannya di kamar Wang So. Hal itu dilakukannya, demi menghindari ibunya. Wang So memerhatikannya dri belakang, mengatakan bahwa kejadian seperti ini harusnya dapat diperkirakan oleh Wang Jung sebelumnya.

“Kejadian ini terjadi, karena aku sedang tak beruntung saja..”

“Kamu tak beruntung? Karenamu, seorang pria telah kehilangan lengannya dan rumah tangganya hancur berantakan. Kamu sebut hidupmu itu adalah ketidakberuntungan? Sekarang, bagaiamana kamu akan mempertanggungjawabkan semua ini?”

34

“Aku bilang aku tak tahu! Lagipula, bukan aku yang melakukannya!!!! Kalau kau tak mengetahuinya, apakah kau masih perlu untuk bertanggung jawab!!!”

“Kamu adalah seorang pangeran! Apakah kamu tak tahu, bahwa semakin tinggi posisimu, maka semakin tinggi pula tanggung jawab yang harus kamu pikul!”

“Hah.. lucu! Memangnya kamu sendiri berada si posisi yang tinggi! Jangan-jangan, kamu berprilaku seperti ini padaku karena ibu selalu memperlakukanmu dengan dingin.. Ataukah dirimu sedang berusaha menjatuhkan adik yang berpotensi lebih bersinar darimu? Sangat memalukan rasanya karena aku terlahir dari rahim ibu yang sama denganmu!”

Mendengar kata-kata itu, membuat Wang So jadi naik pitam. Refleks, ia langsung melayangkan tonjokan tepat ke wajah Wang Jung, “Dasar bodoh” ucapnya

Kebetulan, detik itu juga, Ratu Yoo masuk ke ruangan dan melihat kejadian barusan yang membuatnya sangat marah hingga lansgung mendorong Wang So ke dinding, “Jangan dekat-dekat dengannya!” teriak Ratu Yoo

Wang Jung nampak panik, ia tak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini. Ia bersaha untuk menjelaskan bahwa Wang So-lah yang menyelamatkannya tadi. Namun, Ratu Yo tak peduli, membuat Wang So memilih untuk angkat kaki meninggalkan ruangan ini.

Meseskipun hanya terdiam, terlihat jelas bahwa Wang jung nampak tak nyaman dan merasa bersalah atas kejadian yang dialami oleh Wang So barusan…

Ketika hari semakin larut… Wang Wook malah mengendarai kudanya, pergi kesebuah tempat sepi didekat danau. Ia duduk dan menyenderkan kepalanya dibawah pohon. Berkali-kali, ia menghela nafas dan mengelus wajahnya, matanya-pun terlihat berkaca-kaca, menandakan jika dirinya tengah terbebani oleh suatu hal yang sangatlah mengganggu fikirannya.

Dikamarnya, Hae Soo-pun tengah melamun, tak bisa tidur. Suatu hal penat, nampaknya tengah mengganjal di dalam fikiran dan hatinya…

Dan diluar, Wang So tengah sibuk membangun gunung batu yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri. Sekilas, terbersit bayang, ketika Ratu Yoo memakinya hasbis-habisan dihadapan Wang Jung tadi…

———————————————————————–

Esok harinya,…

Pagi-pagi sekali, Soo dan Pangeran Mahkota telah menghadap baginda Raja. Disana telihat juga Ji Mong yang bereperan sebagai penasehat Raja.

Ada apakah gerangan? Ternyata, Pangeran Mahkota mengajukan permohonan agar Wang So bisa tetap dan terus tinggal di Songak sehingga tak perlu lagi kembali ke Shin Ju. Raja tak bisa mengamini permintaan itu begitu saja, perlu ada penguatan untuk meyakinkannya dalam mengambil suatu keputusan. Mengingat, Wang So sendiri dikirim kesana dengan tujuan menghibur ‘mantan’ selir Kang yang telah kehilangan anaknya.

Wang So memaparkan bahwasanya, disana dirinya sendiri tak pernah dianggap sebagai anak, “Lebih pantas jika keberadaanku disaan disebut sebagai seorang ‘sandera’-an.. Bukankah, Yang Mulia lebih mengethaui akan hal itu..” ujarnya

Ji Mong berusaha meyakinkan raja, dengan mengungkapkan bahwa bintang Wang So jika digabung dengan bintang Pangeran Mahkota akan menghasilkan perpaduan yang hebatnya luar biasa.

Selanjutnya, raja bertanya posisi apaah yang diingin Wang Soo jika ia mengizinkannya untuk tetap tinggal disini sebagai anak-nya raja atau sebagai adik-nya Pangeran Mahkota.

Tanpa fikir panjang, Wang So lansgung menegaskan bahwa dirinya tak akan memilih keduanya, melainkan ia berjanji akan menjadi ‘pelayan’ setia untuk Raja dan Pangeran Mahkota.

Akhirnya, setelah perdebatan yang cukup panjang ini, raja memutuskan untuk mengabulkan permohonan Pangeran Mahkota dan berarti, secara resmi Wang So telah diizinkan untuk tinggal di distana kerajaan Songak..

———————————————————————–

Sementara itu, di kediamannya, Wang Wook tengah makan malam bersama sang istri, Madam Hae. Nampaknya, Wang Wook sendiri sedang tak nafsu makan, terbukti dari perilakunya yang hanya mengaduk-ngaduk mangkok berisi sayur-nya saja.

Tak lama kemudian, datanglah Hae Soo. Nampaknya, dirinya sama sekali tak megetahui bahwa Wang Wook berada disini juga, karena sebelumnya Madam Hae hanya meyuruhnya untuk datang untuk membicarakan sesuatu dengannya.

“Hmm.. sepertinya aku akan datang lagi kesini setelah kalian selesai makan…” ucapnya

Madam Hae tersenyum, dan mengajaknya untuk ikut bergabung makan bersama, “Saya memang sengaja menyuruhmu untuk datang kesini. Saya dengar, kamu bahkan tak mau menyentuh makanan yang dikirmkan kekamarmu. Barangkali, kamu mau makan jika bersama-sama dengan kami..”

Ahirnya, Hae Soo megangguk setuju dan berjalan menuju meja makan, Belum sampai duduk, Madam Hae malah megajaknya berbicang-bincang, menawarkan sekaligus memina Hae Soo untuk mencari kesibukan di dalan rumah saja, entah itu menjahit atau menyulam. Dengan antusian, Hae Soo lansgung mengangguk setuju.

Sementara itu, Wang Wook memilih untuk bangkit dari tempat duduknya, kemudian pamit untuk pergi ke perpustakaan karena ada buku yang ingin dibacanya.

Setelah selesai makan, Hae Soo berjalan meninggalkan kediaman Madam Hae sedirian saja. Tak sengaja, ia melihat Wang So yang tengah berdiri diantara setumpuukan gunung batu…

“Woy… jangan-jangan kamu ingin menghancurkannya lagi?”

“Bukan menghancurkannya, justru aku sedang membangunnya…”

“Ohya??? Memangnya, apa yang sedang kamu harapkan?”

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Wang So malah mengalihkan pembicaraan dengan menceritakan fakta bahwa dirinya akan meninggalkan tempat ini dan pindah ke istana utama, tempat hampir seluruh keluarganya berada.

“Oh.. gitu yaa.. Itu berati, aku tak perlu repot-repot mengantakan makan untumu lagi.. Baguslah..”

“Aku fikir, kamu tak terlalu sering melakukan hal itu. Jadi, berhentilah bertingkah seakan-akan meminta balasan kepadaku..”

41

“Hmmm.. karena kamu akan pindah ke istana.. Aku minta agar kamu bisa hidup dengan tenang disana.. Jangan pernah sekali-kali mengancam untuk membunuh seseroang di sembarang tempat. Jangan menatap tajam seseroang yang tidak mau mendegarkanmu.. Dan yang utama jangan pernah mengeluarkan pedangmu untuk hal yang tidak penting. Dan satu lagi… Jangan pernah menghancurkan sesuatu yang telah dibuat oleh orang lain dengan kerja keras..”

“Ada lagi?…”

“Sudah cukup.. Mmm, palingan jangan lupa untuk makan dan tidur dengan cukup” ucap Hae Soo yang langsung menatap kearah langit.

Ditengah gelapnya malam, nampak begitu banyak bintang yang menghiasi langit Goryeo, dan itu berhasil menyedot seluruh perhatian Hae Soo. Sementara itu, Wang So malah asyik memerhatikan wajah Hae Soo dari samping..

“Heh.. kenapa kau melihatku seperti itu?..” tegur Hae Soo kepada Wang So

“Bukan apa-apa.. aku hanya teringat, ketika kau mengatan bahwa kau sama sekali tak takut padaku.. Bagimana bisa?”

Hae Soo terdiam sejenak, kemudian berkata, “Sebenarnya,… dari sekian banyak hal, Aku paling takut terhadap diriku sendiri. Tentang perasaanku… Meskipun aku tahu bahwa itu hanyalah perasaanku saja, tetap aku tak pernah mengetahui akan berakhir dimana ujungnya. Seberapa besarpun usahaku untuk merubah arahnya, tetap saja aku tak akan pernah berhasil…”

Perlahan, Hae Soo lagi-lagi menatp kearah langit, “Sekarang, aku berada di Goryeo, ada begitu banyak bintang disini..”

———————————————————————–

Tiba-tiba, salju turun… Membuat suasana siantara mereka, jadi semakin terasa romantis. Hae Soo tertawa riang, embari menengadahkan kepalanya demi merasakan aroma dan dinginnya salju. Begitupula dengan Wang So, bedanya ia bisa tersenyum lepas setalah melihat eksperi kebahagiaan di wajah Hae Soo…

42

Ditempat lain, kita melihat Wang Wook membuka sebuah jendela. Melihat pemandangan indah, dari salju yang turun tepat dihadapannya. Sayang,.. bukannya tersenyum, matanya terlihat begitu sendu dan badannya tak berdiri tegasp seperti biasanya. Mendandakan, bahwa hingga saat ini dirinya masih memendam begitu banyak masalah di dalam fikirannya….

 

=Bersambung=


::: NOTES :::

Ouwww….. Makin demen aja sama nih drama. Porsi sedih-sedihannya tuh ngena bangettt, secara gak sadar bikin yang nontonnya juga jadi ikutan meloooo….

Susah deh, kalo udah mainan sama yang namanya perasaan. Telihat jelas, kalau Wang Wook tipe pria yang meskipun gak ‘cinta’, tetep sayang dan perhatian banget sama istrinya yaitu Madam Hae. Namun, disisi lain hatinya mulai goyah karena perasaannya terhadap Hae Soo.

Omoo… aku ini mulai berfikiran kejam, dengan berharap supaya Wook beneran bisa bersatu ama Hae Soo. Tapi, kalaupun itu terjadi, malah akan menimbulkan lebih banyak masalah baru lagi..

Sempat nge-‘rumpi’ dikit sama Mbak Dian, katanya episode ini tuh berasa ada yang jomplang. Tiba-tiba aja si Wang So berubah meluluh terhadap Hae Soo. Kenapa yaa?? Kalau menurutku, itu semua bermula dari adegan pas Wang So lagi marah besar dan ngancurin gunung batu yang dibangun Ratu Yoo.

Saat itu, Wang So membentak Hae Soo dan menyatakan dengan jelas bahwa dirinya telah membunuh.. Alih-alih ketakutan, Hae Soo malah tetap diam dan memaparkan perilah dirinya yang setidaknya bisa memahmi perasaan Wang So.

Nah dari situlah, Wang So menyadari bahwa Hae Soo adalah wanita yang sangat beda dengan yang lainnya. Simple sih, ibaratnya dibalik sifat dan sikap garangnya, tersembunyi sebuah lapisan rapuh didalam hatinya… Ketika dibentak lapisan itu bisa robek, namun saat dilembuti perlahan akan terbentuk lapisan baru dihatinya…

Dan jujur… sejauh ini, aku lebih simpati sama Wang Wook ketimbang Wang So. Bahkan, setiap kali denger ceritanya, aku cuman ngerasa ‘Oh.. kesian’. Padahal pas giliran Wook, meskipun cuman adegan dia yang duduk sendirian dipinggir danau, akutuh udah berasa kayakkk pengen melukkk *ampunlebayparahhh

 

Selanjutnya (Episode 5-1) >>>

Advertisements

9 thoughts on “MOON LOVERS: SCARLET HEART RYEO EPISODE 4-2

  1. Pingback: Sinopsis Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo Episode 1 - Terakhir « Kdramastory

Ayo tinggalkan jejakmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s