JUST ONE SMILE IS VERY ALLURING EPISODE 15

Sebelumnya (Episode 14) <<<

Dalam kelas film yang diambil oleh Er Xi, pak Dosen memberikan sebuah tugas berupa pembuatan video yang akan ditayangkan pada hari kelulusan seluruh kaka tingkatnya. Tugas ini tidak diajukan sebagai sesuatu yang wajib, hanya saja harus ada salah satu diantara mereka yang membuatnya.

Hari itu, lagi-lagi Er Xi datang terlambat. Ia mengendap-endap masuk, dan hendak duduk di kursi kosong disamping Cao Guang. Sayangnya, Cao Guang memperlakukanya dengan sangat amat dingin, hingga tak mau bergeser untuk memberinya jalan masuk.

Sialnya, keterlambatan Er Xi hari ini dipergoki secara lansgung oleh pak dosen yang langsung menjadikannya tumabl untuk membuat tugas video tersebut. Er Xi tak mau melakukannya, ia-pun menggerutu kepada Cao Guang yang tadi tak mau bergeser untuknya. Perdebatan mereka, lagi-lagi menjadi tontonan satu kelas.

Yang pada akhirnya, membuat pak dosen marah besar, “Kalian senang menjadi tontonan, kan. Sekarang aku akan menugaskan kalin berdua untuk membuat video itu!”

Cao Guang bertugas merekam gambar, sementara Er Xi yang tak jago menggunakan kamera ditugaskan untuk menenteng tripod yang lumayan besar dan berat. Hari semakin siang, namun Cao Guang terus saja merekam, tanpa pernah mengajaknya beristirahat. Padahal, ini sudah lewat jam-nya makan siang dan perut-nya sudah keroncongan.

Semua perkataan Er Xi tak dianggap olehnya, ia lebih fokus untuk merekam dan menyelesaikan tugasnya. Kali ini adalah tahap yang terakhir, yaitu merekam beberapa testioni dari mahasiswa di kampus ini. Sebellumnya, Cao guang perlu mn-setting posisi dan angle yang tempat untuknya menaruh kamera. Ia-pun meminta Er Xi untk menjadi model-nya sebentar saja…

Siapa sangka,.. ketika ia melihat Er Xi dari lensa kamera.. Ia menyadari sesuatu.. Sekilas, matanya terlihat berbinar-binar ketika melihat betapa cantiknya wajah Er Xi..

Xiao Nai mengantar Wei Wei ke perpustakaan, ia mencarikannya sebuah buku tentang pemrograman yang ingin dijadikan bahan bacaan Wei Wei selama libur musim panasnya.

Diberikanlah dua buah buku yang nampak-nya agak berat untuk menjadi bahan cernaan Wei Wei. Namun, Xiao Nai tetap memberikannya, ia bahkan berkata jika dirinya rela untuk mengajari Wei Wei dari jauh..

Ketika berjalan keluar meninggalkan gedung perpustakaan, nampak Er Xi yang Cao Guang yang tengah mewanwancarai beberapa mahasiswa. Er Xi melihatnya dan memintanya bersama Xiao Nai untuk mejadi salah sat narasumber mereka.

Namun, Cao Guang bersikap ketus dan menolak keras ide tersebut. Er Xi keukeuh ingin melakukannya, ia memanngil Wei Wei dan memintanya untuk berbicara seputar dunia kuliah dan kisah cintanya dengan Xiao NAi yang sebentar lagi resmi lulus dari kampus ini.

Karena bekerja sendirian, Er Xi nampak begitu kebingungan untuk menyalakan kameranya, beberapa kali ia memencet tombol yang salah. Cao Guang tak tahan melihatnya, dan membantunya untuk menekan tombol ON.

Tapi, ketika melihat dan mendengar kemesraan antara Wei WEi-Xiao Nai, Cao Guang jadi makin emosi dan mengambil kamera yang belum selesai merekam tersebut. Er Xi tak bisa berbuat apapun, ia pamit dan minta maaf pada Wei Wei, kemudian berlari untuk mengejar Cao Guang.

———————————————————————–

Malam harinya,…

Er Xi dan Cao Guang makan bersama diluar. Ia memesan begitu banyakkk makanan, sementara Cao Guang hanya memesan porsi yang secukupnya untuknya. Mereka melihat-lihat hasil rekaman di kameranya, dan Cao Guang berniat untuk menghapus video rekaman yang ada Wei Wei dan Xiao Nai-nya.

Er Xi melarangnya, ia-pun berusaha untuk merebut kamera tersebut.. Tapi malah membuatnya terjatuh kedalam kuah sup. Segera, mereka-pun mengambilnya dan mengeringkannya. Mereka saling menyalahkan satu sama lain, hingga akhirya sepakat untuk mengganti rugi dengan patungan.

Baru juga mencapai kesepakatan, Er Xi malah membuat ulah.. Dalam keadaan yang masih basah.. Er Xi menyalakan kamera tersebut.. Nyala memang, tapi hanya satu detik hingga kamera tersebut mati kembali. Dan itu menandakan jika kameranya sudah korslet….

———————————————————————–

Keesokan harinya,.. adalah hari terakhir untuk ujian tertulis para mahasiswa..

Setelah kertas ujiannya dikumpulkan, berarti mereka semua telah terbebas dari serba-serbi perkuliahan dan sudah saatnya untuk menyambut liburan musim panas yang panjang dan menyenangkan.

Sebelum pulang, ketua angkatan meminta seluruh mahasiswa di kelasnya Wei Wei untuk tidak pulang terlebih dahulu, karena ada beberapa hal yang ingin dibicarakannya, terkait dengan kerja magang selama liburan.

Ketika semuanya merasa kebingungan dan kesulitan untuk mencari kerja, hanya Er Xi yang menunjukkan ekspresi ceria-nya. Ia dengan bangga mengumumkan kalau dirinya diterima kerja magang di perusahaan Zhen Yi.

Hal itu membuat mahasiswa yang lainnya merasa iri, karena mereka semua tahu bahwasanya gaji pegawai magang di perusahaan tersebut terbilang lumayan tinggi…

Saat berjalan keluar, telah ada Xiao Nai yang menunggunya. Mereka mengobrol sebentar dan Xiao Nai mengingatkan Wei Wei kalau mereka ada janji makan malam bersama teman-temannya malam ini.

Mereka-pun berjalan meninggalkan kampus bersama-sama,.. ketika mendekati gerbang keluar, terlihat beberapa mahasiswa senior yang telah lulus, tengah sibuk menjajakan barang-barang bekasnya di pinggiran. Lucunya salah satu diantara mereak adalah Hao Mei..

Dengan wajah yang tertutupi oleh kacamata dan masker, Hao Mei bersusah payah untuk menawarkan selimutnya. Namuan, Wei Wei dan Xiao Nai tak mudah ditipu, mereka lansgung menyadari keberadaanya.

Bahkan, Xiao Nai menyebut Hao Mei sebagai seorang penipu. Ketika bergadang, Hao Mei mengatakan kalau ini adalah selimut dari mahasiswa yang belum pernah tidak lulus dalam mata kuliah apapun, padahal Xiao Nai tahu pasti kalau Hao Mei pernah gagal dalam dua mata kuliah.

Karena hari sudah sore, Hao Mei-pun membereskan barang dagangannya dan langsung ikut pergi bersama Xiao Nai untuk menuju ke tempat makan mereka.

Acara makan ini, membuat suasana diantara mereka semakin dekat. Wei Wei berhasil masuk dan diterima dalam lingkungan Xiao Nai dengan mudah. Semuanya nampak begitu senang dengah kehadiran Wei Wei.

Mereka bahkan memberikan pesan-pesan, agar Wei Wei memprlakukan Xiao Nai dengan baik, “Ini adalah pertama kalinya ia menjalin hubungan..” ungkap mereka

Wei Wei mengangguk faham, mereka semua tersenyum hingga tertawa karena saling menggoda. Beberapa kali, mereka selalu membahas wanita-wanita yang sering menelpon Xiao Nai, tapi selalu diabaikan. Padahal, untuk lelaki biasa seperti mereka, sangatlah sulit untuk mendapatkan telpon dari seorang wanita..

Ketika memesan makana, merka meminta koki-nya untuk membuat makanan yang pedas. Padahal ternyata,.. terkuak fakta bahwasanya Xiao Nai tak suka dan tak kuat untuk memakan makanan yang pedas. Hal itu membuat Wei Wei tertegun kaget..

Hari sebelumnya, ketika Xiao Nai men-traktir-nya makan di restoran seafoor, mereka memesan semua makanan pedas. Dan xiao Nai terlihat menikmatinya tanpa protes atau mengatakan apapun. Ia melihat ke arah Xiao NAi, tapi Xiao Nai hanya berkata ‘tidak’ dan tersenyum kepadanya…

Tujuan berikutnya ialah bermain billyard. awalnya, Wei Wei hanya duduk dan menonton dari pinggir. Ia sama sekali tak memiliki kemampuan untuk bermain. Namun, Xiao Nai membimbingnya dan mengajarinya untuk bermain billyard.

Dan perlahan tapi pasti, Wei Wei bulai bisa elakukannya. Ia-pun sangat senang dan ingin mencobanya lagi dan lagi.. yang lainnya memebri pujian untuk Wei Wei. Bahkan, mereka meminta Xiao Nai untuk mengajak Wei Wei bermain billyard bersama mereka di lain waktu.

Xiao Nai menolaknya, mengatakan jika diriny akan membuat ruang billyar dirumahnya. adi, Wei Wei tak perlu ikut bermain bersama mereka (Hmmmm.. protektif banget sih bang..)

Xiao Nai pamit pulang duluan, karena ia masih harus mengantarkan Wei Wei pulang ke asramanya. Di sepanjang jalan.. mereka berjalan berdampingan, tak ada obrolan apapun. Cukup kesunyian dan hembusan angin malam saja sudah berhasil menciptakan suasana yang begitu romantis diantara mereka berdua.

Setibanya di depan gedung asrama, Wei Wei menghentikan langkahnya, ia bertanya secara langsung, mengapa Xiao Nai tak pernah memberitahunya kalau ia ternyata tak bisa makan pedas. Padahal, makan yang waktu itu mereka pesan, hampir semuanya terasa sangat pedas.

“Tak apa.. Aku bisa berubah..” jawab Xiao Nai disertai sebuah senyuman manis dari wajahnya

“Itu bukanlah hal yang besar, jika memang kamu tak menyukai makanan pedas, kamu tak perlu memaksakan diri hanya untuk bisa menyesuaikannya denganku.. Hal-hal kecil, seperti membelikanku sarapan, atau mengambilkanku segelas air.. kamu tak perlu melakukannya karena hal itu bukanlah kebiasaanmu..”

“Wei Wei… Ini adalah pertama kalinya aku mempunyai pacar. Seringkali,.. aku tak tahu harus berbuat apa… Setidaknya, saat ini aku bisa melakukan apa yang biasanya orang lain lakukan……”

Sebuah pengakuan singkat dari Xiao Nai yang berhasil menyentuh hati Wei Wei, hingga membuatnya tak bisa berkata-kata dan membuat matanya mulai berkaca-kaca.

Hingga muncullah, ibu penjaga asarama yang berteriak meminta Wei Wei masuk, karena sebentar lagi pintunya akan dikunci. Wei Wei pamit pada Xiao Nai dan memintanya untuk segera log in ke akun games-nya ketika sampai dirumah nanti..

Ternyata, Wei Wei ingin memberikan sebuah aksesoris rambut yang dibuatnya sendiri untuk Naihe. Memanglah barang itu masih jauh dari kata sempurna, namun ia membuatnya dengan kerja keras dan usaha untuk mendapatkan material-material langka yang nyatanya sangatlah sulit.

Xiao Nai menerimanya dengan sebuah senyuman manis, “Terimakasih.. istriku tersayang…..”

Xiao Nai menatap sosok Naihe yang kini telah menggunakan hiasan rambut yang baru saja diberikan Wei Wei. Ia kemudian berjalan ke balkon, menata gelapnya langit malam, kemudian membayangkan saat ketika Wei Wei memberikan hiasan rambut itu kepadanya…

Tak lama kemudian teman-temannya pulang.. Entah apa alasannya, tiba-tiba Xiao Nai mengajak mereka semua untuk bermain kartu dengannya. Tak hanya jago bermain games, ternyata Xiao Nai juga sangatlah jago dalam hal bermain kartu. Beberapa ronde, berhasil dimenangkannya dengan mudah…

Tak terasaaa… ternyata, malam ini merupakan malam terakhir mereka untuk tinggal di asrama.. Semua orang, satu-persatu mulai pergi.. Ada yang pergi karena sudah lulus dan ada yang pergi karena sudah saatnya untuk liburan musim panas.

Karena kekalahan telaknya, Ban Shan mendapat hukuman untuk mentraktir Xiao Nai makanan sepanjang liburan musim panas. Ketika menulis surat perjanjiannya, ia baru sadar,.. Saat ini merka telah lulus kuliah, berati tak akan ada lagi yang namanya liburan musim panas, ia-pun sekarang mengganti kata ‘musim panas’ dengan menulis nama bulan, sekitar oktbe-september..

Sungguh, itu hanyalah hal kecil yang membuat perasaan mereka terenyuh. Kini mereka benar-benar harus pergi meninggalkan kampus dan asrama yang telah ditempati selama bertahun-tahun..

Mereka berjalan menuju balkon.. Berteriak.. “Selamat tinggal Qing University…”

Hanya Xiao Nai yang tak melakukan hal itu, ia beralasan jika rumahnya masih dekat dengan lingkungan kampus ini.

Padahal,.. ketika semua teman-temannya masuk kedalam.. dengan nada suara yang rendah, ia-pun mengucapkan ucapan selamat tinggal untuk kampus tercintanya ini…

Wei Wei juga harus pulang.. Langkahnya terasa begitu berat, ia nampak belum rela untuk berpisah dengan Xiao Nai. Di dalam perjalanannya, tak ada satupun dari merka yang membahas tentang perpisahan ini. xiao Nai malah lebih memperhatikan kondisi Wei Wei yang tengah terkena flu, “Kamu membawa obat?”

Tanpa perlu disuruh, ternyata Xiao Nai telah membawakannya obat. Dan Wei Wei,.. ternyata ia memiliki sesuatu untuk Xiao Nai..

Ia memberikannya sebuah kaktus kecil, untuk dijaga dan dirawatnya selama mereka berpisah. Dengan eskpresi yang datar, xiao Nai berkata, “Kau tahu.. nanti setiap kali aku melihat kaktus itu malah membuatku merindukanmu…”

Wei Wei meminta maaf, dulu dirinnya memesan tiket ketika belum berpacaran dengan Xiao Nai. Jadinya, ia tak bisa menduga hal seperti ini akan terjadi, dan dirinya akan pulang lebih awal. Xiao nai tak menjawabnya, ia lebih fokus melihat keddepan karena tengah menyetir.

Sesampainya di terminal, Xiao Nai tak rela melepas Wei Wei pergi sendirian. Ia-pun menawarkan diri untuk mengantarnya dan hendak membeli tiket terlebih dahulu. Wei Wei melarangnya, namun Xiao Nai keukeuh ingin malkukannya.

Ketika Wei Wei ingin ikut bersamanya ke loker pembelian tiket, Xiao Nai memintanya untuk menunggunya disini saja, “Aku tahu kopermu sangat berat. Duduk dan tunggulah disini, istriku sayang…..”

>>> Selanjutnya (Episode 16)

Advertisements

10 thoughts on “JUST ONE SMILE IS VERY ALLURING EPISODE 15

  1. Pingback: JUST ONE SMILE IS VERY ALLURING EPISODE 14 | my-eternalstory

  2. Pingback: JUST ONE SMILE IS VERY ALLURING EPISODE 16 | my-eternalstory

Ayo tinggalkan jejakmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s