MOON LOVERS: SCARLET HEART RYEO EPISODE 13-1

<<< Sebelumnya (Episode 12-1)

———————————————————————–

“Seorang pangeran mau menikahi pelayan pencuci baju? Jangan coba-coba membodohi Soo!” -Wook

“Kalau aku mau menikah, maka aku akan menikah!” -So

“Kau!!!” -Wook

“Berhentilah pura-pura peduli padanya…, teruslah saja berpaling darinya seperti yang biasa kau lakukan. Kau bukan lagi kakak iparnya. Dia bukan urusanmu lagi!” -So

Mata mereka saling tatap dengan sangat amat tajam.. Amarah, kebencian, terlihat jelas diantara mereka. Emosinya, secara refleks membuat mereka sama-sama menarik kerah baju satu sama lain.. Di saati itulah, So melihat sesuatu..

Secara jelas, ia melihat jubah baja yang dikenakan Wook dibalik pakaian kerajaannya….

Di tengah-tengah keriuhan acara pesta, Woo Hee melancarkan aksinya untk membunuh raja. Namun,.. baru juga mengambil ancang-ancang, Raja yang sedang tidak enak badan terjatuh dari kursi dan terkapar di lantai.

Baek-A menyadari apa yang akan dilakukan oleh Woo Hee. Maka dari itu, ia menghalanginya dan itu membuatnya tertusuk oleh ujung pedang Woo Hee, secara tidak sengaja.

Beberapa detik, Baek-A dan Woo Hee sama-sama terdiam,.. Disana sagat amat banyak orang, mata mereka tertuju pada baginda raja yang kolaps. Setidaknya, hal itu membuat tragedi yang dialami oleh Baek-A tak diperhatikan atau bahkan tak ada yang menyadari hal itu.

Baek-A sama sekali tak marah,. Ia malah menatap khawatir Woo Hee, kemudian menyuruhnya untuk segera kabur dari tempat ini..

Di dalam kamarnya, baginda Raja sudah terbaring lesu diatas kasurnya. Dengan suaranya yang mulai melemah, beliau bertanya, “Apa aku akan pergi seperti ini? Hidup itu memang pendek dan cepat berlalu. Selama ini aku hidup dan berjuang untuk apa?”

“Yang Mulia mendirikan sebuah kerajaan…”

“Kerajaan? Apa Goryeo akan… bertahan selamanya? Apa keputusanku sudah tepat memilih Putra Mahkota untuk menggantikanku?…”

“Kami akan membuktikan kalau keputusan Yang Mulia sudah tepat. Putra Mahkota… yang akan naik takhta..”

“Kalian memang teman baik bagiku. Perangku sudah berakhir sekarang…. Sekarang perang kalianlah yag akan dimulai. Aku titip Putra Mahkota… dan Pangeran ke-4 pada kalian…”

Sungguh, perkataan Raja barusan menjadi hal yang sangat amat menyedihkan untuk didengar. Jimong menujukkan raut wajah yang tidak enak. Ia tak lagi mengatakan kalau raja akan baik-baik saja, ia memilih untuk diam,.. pertanda jika memang dirinnya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Sementara, jendral panglima perang Park Soo Kyung.. ntuk pertama kalinya, kita melihat ia menangis.. menangis karena ketidakrelaannya, melihat Raja berada dalam kondisi seperti itu.

Hae Soo tengah sibuk meracik ramuan herbal.. Ditengah lamunannya, ia terus teringat akan perkataan So kepadanya..

‘Kita… menikah saja. Sulit sekali bagiku menjadi utusan…, tapi aku diberi banyak kebebasan. Di saat aku bertugas, aku selalu memikirkanmu. Aku juga ingin kau bebas seperti itu. Ikutlah bersamaku.’

Itulah satu kalimat penuh arti, yang membuat Soo nampak begitu kebingungan.. Tanpa disadarinya, So telah melekat erat dalam hati dan fikirannya..

Koalisi pangeran ‘pemberontak’, yaitu Yo, Wook dan Won berjalan bersama-sama menuju kediaman baginda raja. Mereka menyadari, bahwasanya raja tengah berada pada kondisi yang sangat buruk.

“Putra Mahkota tak boleh tahu soal situasi sekarang ini.” -Yo

“Aku sudah menutup semua jalan keluar dari Songak.” -Wook

“Setelah Raja meninggal…, kita harus mengamankan titahnya dan memenangkan perebutan takhta ini..”

Tiba-tiba, muncullah Jung yang berlari kearah mereka dan bertanya apakah kondisi raja baik -baik saja. Tak ada satupun dari mereka yang menjawabnya secara pasti. Karena, meskipun telah mengetahuinya, mereka masih belum mendapat bukti nyata karena belum bisa melihatnya secara langsung.

Saat mereka hendak memasuki istana Raja.. Muncullah begitu banyak pasukan pengaman kerajaan yang berdiri dan berbaris rapi melindungi kediaman raja.

“Yang Mulia, kembalilah ke kamar kalian. Raja akan segera memberi perintahnya…” -Park Soo Kyung

“Kami tak bisa pergi. Jika Raja sakit parah…, kami harus melindungi Istana Cheondeokjeon agar titahnya tidak berubah” -Yo

“Siapa pun yang memasuki Istana Cheondeokjeon ini tanpa izin Raja… akan dieksekusi atas tindak pengkhianatan. Jadi kalian semua, sebaiknya pergi sekarang.” -Park Soo Kyung

Yo tak mau pergi begitu saja, “Aku harus menemui Raja. Beraninya kau menghalangi jalanku!”

Soo Kyung tak menggubris amarahnya, ia malah menatapnya tajam dan menyuruhnya untuk segera pergi meninggalkan tempat ini….

DItengah-tengah perdebatan ini, Won menyadari seuatu.. Sedari tadi, ia belum melihat kedairan pangeran ke-4, Wang So…

Bukan hnaya pangeran, para ratu yang berada didalam istana juga dilarang untuk  memasuki kamar baginda raja. Setelah melihat sikap aneh Jimong, Rayu Yo menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal, “Kau pasti sedang mengulur waktu sampai Putra Mahkota kembali…”

Ketika semua orang kesulitan memasuki kamar baginda raja, Soo malah diminta untuk membuatkan teh di dalam kamar tersebut. Dalam kondisinya yang tengah sekarat, Raja masih bisa menyadari bahwasanya wangi teh itu sangat persis dengan yang sering dibuatkan Sanggung Oh untuknya.

Hae Soo berjalan menghampiri Baginda raja, “Yang Mulia sudah merasa baikan?” tanyanya

“Aku akan segera meninggal. Bawalah Putra Mahkota ke hadapanku. Sebelum semuanya  terlambat…” pinta baginda Raja

Hae Soo terkejut, ia tak faham.. Mengapa harus dirinya yang mencarikan pangeran mahkota?

“Harus kau orangnya. Orang Istana tidak boleh ada yang tahu… aku akan meninggal… sebelum Putra Mahkota kembali. Setelah kau keluar dari ruangan ini…, pasti semua orang akan menghampirimu. Mereka akan menanyai kondisiku. Jika mereka bertanya bagaimana kondisiku…, bilang saja kalau aku ingin minum teh lagi. Berhati-hatilah terhadap siapa pun yang bertanya apa aku akan meninggal. Orang-orang itu… mau mengincar takhta. Pergilah sekarang. Jangan percaya pada siapa pun. Nasib Kerajaan Goryeo… ada di tanganmu. Mungkin itulah alasannya kau ada di sini.” -Baginda Raja

Nampaknya, So telah mendapatkan perintah untuk menjemput Pangeran Mahkota. Namun, perjalanannya dihadang oleh sekumpulan panglima perang, ditambah lagi.. Muncul Yeon Hwa yang ternyata menjadi orang yang bertanggug jawab atas hal ini.

So sadar betul hal seperti ini pasti akan terjadi,.. Ia tahu kalau ini semua termasuk rencananya Wook, “Dugaanku benar ternyata. Tadi malam…, aku melihat Wook memakai baju baja. Aku melihatnya dengan jelas di balik baju lengannya. Aku penasaran kenapa dia diam-diam memakai baju baja di Istana….”

Dengan tergesa-gesa, Soo berjalan dengan kaki yang pincang demi mencari ‘seseorang’ yang bisa dipercayainya untuk membantunya. Langkahnya terhenti, ketika terdengar suara Wook yang memanggilnya.

“Kau terlihat buru-buru. Mau kemana?”

“Raja ingin minum teh. Aku mau pergi ke Damiwon.”

“Apa maksudnya So ingin menikah denganmu? Aku tadinya tak tahu hubungan kalian. Aku terkejut..”

“Kau salah paham. Pangeran ke-4….. Ah, nanti saja kujelaskan. Pokoknya sekarang…, aku dapat tugas dari Raja.”

“Apa mungkin… Raja telah meninggal? Aku khawatir padanya… ”

‘Berhati-hatilah terhadap siapa pun yang bertanya apa aku sudah meninggal, Orang itu… mau mengincar takhta.’ -Raja

“Apa kau… ingin menjadi Raja?…..”

———————————————————————–

Berikutnya, kita melihat dan mendengar obrolan diantara Soo dan Yeon Hwa yang tak jauh beda dengan apa yang dibicarakan oleh Hae Soo dan Wang Wook.

Yeon Hwa memanfaatkan kesempatan ini, untuk meng-‘hasut’ So.. Mengataan jika dengan bantuannya saja, So akan bisa mendapatkan tahta itu, “Raja dalam keadaan sekarat sekarang. Yang paling genting adalah siapa yang akan menduduki takhta. Pewaris takhta adalah Putra Mahkota Moo. Itulah wasiat Raja. Kalau Kakak sendiri bagaimana? Apa kau ingin menjadi raja? Apa kau akan… menjadi raja?”

“Apa menjadi raja itu gampang… sampai kau harus jadi raja kalau kau mau?”

“Kau bisa jadi raja dengan bantuanku. Dengan dukunganku… dan keluarga Hwangbo…, kau bisa menjadi raja.”

Kepada Soo, Wook menjelaskan alasan mengapa dirinya sangat ingin menjadi Raja, “Saat aku kehilanganmu…, tak ada yang bisa kulakukan dengan kekuasaanku yang terbatas. Untuk melindungi… orang yang kucintai di Istana ini…, aku sadar kalau aku butuh kekuasaan besar…”

Sementara itu, Yeon Hwa masih berusaha keras untuk meyakinkan So. Ia menjelaskan bahwasanya, menjadi seorang raja berarti banyak.. Seorang raja bisa menggenggam dunia,.. seorang raja bisa memiliki segala-galanya.

“Kalau begitu.. apa bisa aku mendapatkan hati seseorang juga? Jika aku menjadi raja…, apa seseorang yang kucintai akan menjadi milikku? Kau bertanya apa aku akan menjadi raja? Aku akan menjadi raja. Kalau memang bisa begitu… Aku ingin jadi raja. Aku akan.. menjadi raja…”

Sekian lama tak sadarkan diri, Raja akhirnya membuka matanya.. Namun, hal itu terjadi hanyalah dalam hitungan detik saja. Hanya satu kata yang diucapkannya, “Soo Yeon-aa..”

Itu adalah nama asli Sanggung Oh.. Sembari mengucap nama itu, benaknya juga berangan-angan seakan dirinya tengah melihat Sanggung Oh berpakaian putih, memperlihatkan wajah bersinar, dengan membawa sebuket bunga cantik di tangannya.

Setelah menyebut nama itu, Raja menutup kembali matanya. Bukan untuk sementara, tapi untuk selamanya.. Jimong dan Ratu Hwangbo menyadari bahwasanya Baginda Raja telah meninggal. Namun, Ratu Yoo masih menyangkalnya,.. Ia berteriak histeris memanggil-manggil nama Raja dan memintanya agar bangun kembali….

———————————————————————–

“Demi dirimu. Aku akan menjadi raja…”

“Demi diriku? Karena aku?”

“Ini sudah dimulai. Besok…, aku dan Pangeran ke-3 akan menyerang Istana Cheondeokjeon.”

“Tidak bisa. Itu pengkhianatan…”

“Soo. Lagipula, Putra Mahkota takkan bisa kembali. Berjuang merebut posisi kosongnya sama saja dengan bertempur menjadi raja. Jadi kau, rahasiakanlah ini. Kau harus bersembunyi dan menungguku. Kau bisa melakukannya, ‘kan? Biar kutanya lagi padamu. Apa Raja… telah meninggal?”

Soo terdiam sejenak.. nampkanya ia bimbang. Namun, pada akhirnya ia memilih untuk menutupi semuanya.. Hanya mengatakan jika raja ingin minum teh dan kemudian ia berjalan menjauhi Wook.

Wook menatapnya sedih.. “Putra Mahkota… sekarang berada di Chahyeon. Kau tak bisa menjemputnya sendirian.” ungkapnya

Mendengar perkataan Wook, membuat Yeon Hwa bersikap sinis, “Kau akan menjadi raja hanya untuk cinta? Takhta bukan hal sepele dengan maksud tujuan seperti itu.”

“Itulah tujuan takhta menurutku.”

So mengancam untuk menjadikan Yeon Hwa sebagai seorang penghianat, jika ia tetap tak membuka jalan ini. TApi Yeon Hwa terlalu cerdas. Ia memiliki alibi kuat untuk tetap menutup jalan perbatasan ini, “Aku menutup jalan keluar Songak agar mencegah timbulnya pemberontakan karena Raja sedang sekarat. Aku tak bisa membuka jalan ini bagimu karena aku tak tahu siapa yang akan kau bawa kesini.”

Baek-A berdebat hebat dengan Woo Hee, hingga pada akhirnya Woo Hee mneceritakan alasannya ingin membunuh raja. Ternyata, seluruh anggota keluarganya telah dibunuh.. Dan hanya dirinya yang masih bertahan hisup. Semua itu,.. karena ulahnya baginda raja.

Baek-A merasa simpati terhadapnya. Ia mengatakan jika dirinya akan meminta maaf atas nama raja, “Maafkan aku. Maafkan aku karena aku menjadi anaknya.” ucapnya yang kemudian menarik Woo Hee kedalam pelukannya.

Yo sudah kehabisan akal untuk mencari jalan memasuki kediaman raja. Hingga secara tiba-tiba, datanglah Jung yang menceritakan bahwasanya, dari apa yang didengar olehnya,.. Raja masih dalam kondisi baik-baik saja apalagi setelah meminum teh Damiwon yang dibuatkan oleh Hae Soo.

Sejenak, mereka semuanya terdiam.. Namun Yo,… matanya berbinar tajam, “Cari perempuan itu. Hanya dia yang tahu kondisi kesehatan Raja. Jangan sampai dia memberitahu Putra Mahkota tentang kondisi Raja. Cari dia. Sekarang!” tegasnya

Hae Soo berlari tergesa-gesa menuju kediaman So. Namun, ia tak bisa menemukannya dimanapun. KEtika berjalan di koridor, secara tak sengaja ia melihat Won yang tengah sibuk mencarinya. Ia-pun bersembunyi dibalik tihang.. Dan tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya…

Untunglah, itu tangan So..

Tanpa keraguan sedikitpun, Soo langsung menceritakan semua hal yang diketahuinya. Dari mulai meninggalnya Raja hingga rencana penyerangan Chendeokjeon besok. So nampak begit terkejut, ia bertanya darimana Soo bisa mengetahui semua hal itu.

“Apa itu penting sekarang?” jawab Soo singkat

Karena waktu mereka terbatas, maka So langsung mengajak Soo untuk menyusun strategi demi memberitahukan Pangeran Mahkota tetang semua ini, “Putra Mahkota sekarang ada di Hubaekje. Semua jalan keluar dari Songak ditutup…”

“Hubaekje katamu? Aku kenal seseorang yang tahu jalan kesana.”

Hae Soo membawa So untuk bertemu dengan Woo Hee. So sempat ragu, apakah mereka bisa mempercayakan masalah sepenting ini kepadanya?

Baik Soo maupun Baek-A, sama-sama mengatakan bahwasanya Woo Hee merupakan orang yang sangat bisa dipercaya. Maka dari itu, So akhirnya menceritakan semuanya.. Dan secara khusus meminta bantuan Woo Hee untuk mencari pangeran mahkota bersama Baek-A. Sementara dirinya sendiri, akan tetap disini.. takutya ada hal buruk yang akan terjadi..

Yeon Hwa menghampiri Wook,.. Lagi-lagi, obsesinya akan kekuasaan membuatnya berusaha keras untuk membujuk Wook agar segera bertindak. Saat ini, merupakan saat yang paling tepat.. Ketika Wook berhasil menyerah istana, mka asecara otomatis tahta akan jatuh ketangannya.

Wook terdiam, nampaknya ia sudah memiliki rencana lain, “Sudah kubilang. Aku tak akan menjadi raja… yang akan dikenang sebagai pengkhianat. Aku tak mau ada orang yang meragukan kemampuanku. Aku tak mau namaku ternodai….”

“Aku tak tahu apa rencanamu sesungguhnya. Kau kemarin memakai baju baja saat memasuki istana. Kukira kau itu sudah berpihak dengan Yo, tapi kau tak mau membunuh Putra Mahkota. Aku bingung…”

“Aku sedang memprioritaskan keputusanku. Siapa yang harus kuserang duluan? Putra Mahkota? Atau saudara ketigaku? Tak boleh ada satu kesalahan pun saat aku merebut takhta.”

“Kau sudah berubah ya, Kak. Kau padahal tak dipaksa ikut merencanakan ini semua. Sepertinya kau memang menginginkan takhta itu sekarang.”

“Jika keadaannya tak berubah, maka aku yang harus berubah….”

Soo berjalan dengan kakinya yang pincang menuju pelataran tepat didepan singgasana raja. Tak lama kemudian, terlihat So yang juga berjalan kemudian berdiri tepat disampinya… “Kenapa? Kau mau duduk disana?” tayanya

“Tidak… Aku tak suka itu. Semua orang rela mempertaruhkan hidupnya demi duduk di kursi itu. Untuk mempertahankan kursi itu…, Raja telah mengeksekusi Dayang Oh… dan kau, Yang Mulia… harus melawan saudara-saudaramu. Itu memang kursi yang mengerikan. Saat kau bertarung melawan mereka besok…, kau takkan menyakiti mereka, ‘kan?”

“Apa kau mengkhawatirkan Wook? Atau karena dia masih kerabatmu? Kau bisa menyaksikannya saja nanti…”

Soo terdiam sejenak, kemudian ia menjelaskan alasan mengapa Wook sampai berencana untuk melakukan penghianatan, “Dia bilang itu demi diriku. Dia marah… karena dia tak berbuat apa-apa saat aku diusir dari Istana. Dia tak sanggup dan terpaksa meninggalkanku. Dia bilang dia ingin kekuasaan. Raja… menyuruhku jalani hidupku secara rasional dan dengan tujuan. Karena itu aku mendukung Putra Mahkota. Tapi jika Pangeran ke-8 terluka…, aku juga akan terluka… seumur hidupku.”

“Aku tak bisa menjamin apa pun. Tapi aku akan berusaha. Aku juga tak mau Wook mati. Tapi, aku juga bisa saja terluka. Apa kau tak khawatir padaku juga?”

‘Kau adalah Gwangjong. Hidupmu akan panjang.’

“Orang yang kelihatannya takkan pernah mati… mereka juga akan mati suatu hari nanti.”

“Aku tak tahu banyak hal…, tapi aku yakin kau akan baik-baik saja.”

 

———————————————————————–

>>> Selanjutnya (Episode 13-2)

Advertisements

3 thoughts on “MOON LOVERS: SCARLET HEART RYEO EPISODE 13-1

  1. Pingback: MOON LOVERS: SCARLET HEART RYEO EPISODE 13-2 | my-eternalstory

  2. Pingback: Sinopsis Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo Episode 12 Part 2 « Kdramastory

  3. Pingback: Sinopsis Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo Episode 1 - Terakhir « Kdramastory

Ayo tinggalkan jejakmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s