AGE OF YOUTH EPISODE 1

Episode perdana yang menarik… ceritanya fresh, dan gak melulu membahas tentang kisah percintaan. Berpusat pada 5 orang wanita yang tinggal di satu atap yang sama.

Dimulai dari datangnya seorang penghuni baru, seorang maba lugu yang berasal dari daerah pinggiran. Untuk pertama kalinya, ia harus terpisah dari keluarga dan tinggal bersama dengan orang asing yang belum ia tahu akan seperti apa respon mereka terhadapnya. Apakah dibully?? Atau dikacangin??? Atau….

Daripada kepo, langsung baca sinopsisnya di bawah ini. Happy reading….


== EPISODE 1 ==

[ Fear of Takeoff #slipper ]

Perempuan berpenampilan polos dan lugu menaiki kereta menuju Seoul. Dari senyumnya, kita bisa melihat sifatnya yang ramah dan pemalu. Dia hanya diam, sesekali melihat pemandangan dari jendela atu tersenyum kepada orang yang duduk di dekatnya.

Dari radio, kita mendengar penyiar sedang mengungkapkan kesan dan pesannya mengenai tanggal 1 Maret hari ini, yang bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru. Hampir seluruh pelajar akan memulai segala hal yang baru di hari ini, untuk itu ia berpesan agar mereka harus menyiapkan sesuatu yang sangat pernting dan krusial, yaitu ‘rasa percaya diri..’. Mereka harus bisa percaya diri dalam mengahadang masa depan yang akan mereka hadapi….

Perempuan tadi telah turun dari kereta, bermodalkan GPS dari smartphone-nya, ia sendirian melangkahkan kakinya untuk mencari alamat kosan barunya yang bernama ‘Belle Epoque’

Tak perlu waktu yang lama ia pun menemukan tempat tersebut. Perlahan, ia melangkah menaiki tangga, seorang nenek berpakaian modis memperhatikannya dari bawah, “Siapa kamu???” tayanya

Dengan sopan perempuan itu menundukan kepalanya untuk memberi salam, “Perkenalkan, Saya.. Yoo Eun Jae, orang yang akan pindah kesini hari ini…”

Yupss.. dialah Yoo Eun Jae (Park Hye Soo), si wanita lugu dari pedesaan, penghuni baru di kosan ‘Belle Epoque’

Eun Jae masuk kedalam, menaiki tangga menuju kamarnya diatas. Nenek itu memanggilnya, “Mungkin… kamu akan mengalami saat-saat yang berat…” ujarnya


“Kelas baru… Tahun ajaran baru…. Awal yang baru. Setiap kali harus menghadapi hal-hal ini, aku merasa harus menghadapi mimpi buruk. Aku tak melihat sesuatu yang baru sebagai sebuah hal yang harus dihadapi, melainkan sesuatu yang selalu aku takuti….”

= Eun Jae =


Di depan apartemen barunya, Eun Jae menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, memencet bel, menunggu seseorang didalam mendengar dan membukakan pintu untuknya.

Di dalam, salah seorang penghuninya sedang bermesraan dengan sang pacar. Ia panik ketika mendengar suara bel. Segera, ia merapikan kembali pakaiannya kemudian berjalan menuju pintu melihat siapa orang yang membunyikan bel dari layar interkom.

Perempuan itu adalah Jung Ye Eun (Han Seung Yeon), salah satu penghuni  boarding house ‘Belle Epoque’. Orangnya sangat to the point, celetak-celetuk dan kadang bersikap begitu egois.

Ye Eun belum mengenali Eun Jae, hingga ada panggilan masuk dari seseorang bernama ‘penghuni baru’ di layar ponselnya. Ia panik setengah mati, ditambah lagi terdengar suara nenek yang memanggilnya. Ia pun menyuruh pacarnya untuk segera bersembunyi dan ia pun bergegas menyembunyikan sepatu. Namun, pintunya keburu dibuka. Untung saja, ia masih sempat menyembunyikan sepatu itu di balik rok-nya.

Eun Jae masuk kedalam sambil tersenyum canggung. Takut ketahuan, Ye Eun langsung menarik Eun Jae ke kamar barunya dan menutup pintu rapat-rapat. Secara singkat ia menejalaskan situasi dan kondisi di tempat tersebut. Nantinya, Eun Jae akan tidur sekamar dengan seorang mahasiswi jurusan bisnis yang sekarang sudah kuliah di tahun keempat.

Sementara itu Ye Eun sendiri sekarang berada di tahun ketika di jurusan Gizi. Dan orang yang sekamar dengannya merupakan mahasiswi jurusan komunikasi yang sering bepergian dan kebetulan seminggu kedepan ia tidak akan pulang. Penghuni terakhir adalah wanita seksi dan modis yang kuliah dijurusan bisnis.

Ternyata semua tingkahnya ini, ia lakukan agar pacarnya bisa meloloskan diri tanpa ketahuan. Setelah mengetahui pasti pacarnya berhasil keluar, ia pun berhenti bercerita kepada Eun Jae dan pamit undur diri, meninggalkannya sendirian.

Eun Jae menaruh tasnya. Tak sengaja, ia melihat sebuah kotak yang tersimpan di kolong meja. Ia membukaya, kemudian melihat foto seorang wanita yang mengenakan kostum penari ballet.

Selanjutnya, ia mengelilingi setiap sudut tempat tingalnya yang baru tersebut. Ia melihat beberapa mug yang tergantung rapi, beberapa pasang slipper yang tertata rapi, dan alat-alat mandi yang terpisah sesuai dengan jumlah penghuni tempat ini.

Di dekat pintu terpasang sebuah papan tulis. Isinya peraturan penting di tempat ini: Tidak ada laki-laki, Tidak ada pacar dan tidak ada teman laki-laki…. Jika ketahuan membawa salah satu dari itu, maka sanksinya akan diusir dari tempat ini.

Ketika hendak menaruh sepatunya di rak, ia membuka sebuah laci dibawahnya. Terdapat sepasang sepatu penari ballet yang telah usang dan lusuh. Nampaknya itu telah sangat sering digunakan untuk latihan.

Ketika Eun Jae sedang keramas, seseorang perempuan yang baru dilihatnya lansgung masuk begitu saja dan buang air di kloset, bahkan tanpa menutup pintunya. Kamu pasti penghuni baru itu ya,…“ ujarnya

Dia adalah Kang Yi Na (Hwa Young), mahasiswi jurusan bisnis yang seksi dan sangat modis…

Malam hari tiba, saatnya untuk tidur. Eun Jae mematikan lampu kamarnya namu ia melihat kasur diatas masih kosong. Ia pun menyalakannya kembali, kemudian berjalan ke kasurnya untuk segera tidur.

Dalam tidurnya, ia mengalami mimpi buruk. Entah tentang apa itu namun terlihat seorang gadis kecil berjalan memasuki kelasnya, terdengar suara anak kecil tertawa. Tiba-tiba, Eun Jae mengambil sepasang sepatu ballet dan muncul beberapa gambar tidak beraturan yang sangat sulit dan tak bisa diinterpretasikan secara jelas.

Saat terbangun dari tidurnya, seseorang masuk dan lansgung mematikan lampu. Tentu saja itu teman sekamanya, namun ia tak sempat melihatnya karena orang itu langsung naik ke atas kasur dan tidur begitu saja.

Keesokan pasinya, Eun Jae terbangun dan melihat jika wanita itu telah tak ada lagi. Sebuah post-it tertempel di meja, yang bertuliskan “Matikan lampu, sebelum tidur!”

Eun Jae menghela nafasnya, mengeluh jika dirinyatak mematikan lampu karena bermaksud untuk menghargai rekannya yang belum pulag tersebut.

Eun Jae membuat roti panggang, ia mengoleskan selai buatan ibunya yang ia bawa dari rumah. Tiba-tiba, datanglah Ye Eun yang hendak menyeduh kopi. Eun Jae memberikan rotinya untuk Ye Eun, sementara dirinya sendiri membuat yang baru lagi.

“Wahhh.. selainya sangat enak. Darimana kamu membelinya? ” Tanya Ye Eun

“Mmm.. aku tidak membeli. Aku membawanya dari rumah…” Jawab Eun Jae

Muncullah Yi Na dari dalam kamar mandi, ia hanya mengenakan selembar handuk dan tanpa malu lansgung berjalan menghampiri mereka. Eun Jae masih belum terbiasa melihatnya, ia bahkan terus menundukan kepalanya.

Eun Jae masih penasaran akan sesuatu. Ia pun bertaya mengenai foto penari ballet yang tersimpan di kamarnya. “Apakah ada seseorang yang mengambil jurusan tari??”

Mendengar pertanyaan itu, membuat Yi Na dan Ye Eun terdiam kikuk. Mereka seakan-akan tak menutupi sesuautu dan hanya mengatakan jika itu adalah wanita yang tinggal sebelum Eun Jae.

Hari telah siang, Eun Jae membuka dus paket yang telah tersimpan diatas meja. Tiba-tiba, terdengar suara teman sekamarnya yang tanpa diketahuinya sudah berada diatas kasur. Ia menegur Eun Jae yang terlalu berisik dan mengganggu tidurnya. Eun Jae pun meminta maaf, namun temponnya berdering dan ia lansgung bergi keluar untuk mengangkatnya.

Itu adalah telpon dari ibunya. Namu tiba-tiba,  ia dipaksa untuk mengucapkan salam kepada seseorang yang dipanggilnya ‘paman’. Terdengar jika ia berterimakasih atas kiriman paketnya kemudian ia mengungkapkan jika dirinya baik-baik saja disini.

Ketika kembali ke kamar, lagi-lagi teman-sekamarnya itu telah menghilang dan hanya meninggalkan selembar post-it untuknya ‘Dikamar jangan telponan, SMS-an saja! Ubah dering ponselmu jadi getar saja!’

Untuk pertama kalinya, Eun Jae pergi ke kampusnya. Di dalam bus, terlihat jelas jika ia memiliki kesulitan dalam megungkapkan perasaannya. Berkali-kali, tas seorang penumpang yang berdiri menyenggol wajahnya. Namun, ia tak berani mengungkapkan ketidaknyamannya dan memilih untuk pindah berdiri saja.

Sesampainya dikampus, kepada Ye Eun ia bercerita jika dirinya tak mengikuti masa ospek. Ye Eun sangat menyayangkan hal tersebut, karena itu berati Eun Jae masih belum mempunyai teman dan akan agak sulit untuk beradaptasi disini.

Ye Eun meninggalkannya karena ada teman yang memanggilnya. Selajutnya, Eun Jae berjalan menuju kelasnya sendirian. Ia benar-benar sendirian, dan disana ada seorang senior pria yang meminjam pulpen kepadanya. Namun, di akhir kelas, pria itu lansgung pergi begitu saja tanpa mengembalikan pulpennya. Lagi-lagi, Eun Ja tak menegur dan membiarkannya pergi begitu saja.

Kembali ke apartemennya, Eun Jae makan sendirian sembari menonton TV. Tiba-tiba, terdengar suara penjual tagerine yang lewat di depan. Segera, ia pergi keluar untuk mmbelinya.

Saat kembali, telah berdiri seorang perempuan di samping meja makan. Ia adalah teman sekamarnya, yaitu Yoon Jin Myung (Han Ye Ri)…

Sejenak mereka terdiam saling menatap, kata-kata pertama yang keluar dari mulut Jin Myung adalah “Matikan TV kalau mau pergi keluar. Dan bereskan sendiri bekas makanmu, jaga tempat ini tetap bersih!”

Eun Jae masih terdiam, ia hanya menganggukan kepalanya, kemudian hendak mengambil sebuah tangerine dari dalam kresek untuk diberikan kepada Jin Myung. Saat mengangkat kepalanya, Jin Myung sudah pergi meninggalkannya, tanpa mengucap kata pamit sekalipun.

“Ahhh.. detik ini, aku ingin pulang. Benar-benar ingin pulang kerumah…” gumam Eun Jae

Hari-hari berikutnya semakin berat bagi Eun Jae. Seringkali, Ye Eun memakan selainya tanpa izin… Dan Yi Na selalu pulang dalam keadaan mabuk dan secara tadar (atau sadar), seringkali menginjak sepatu miliknya. Dan Jin Myung, masih saja meninggalkan post-it yang isinya terguran untuk ini dan itu.

Ketika Eun Jae hendak mencuci pakaian di mesin cuci, muncul Ye Eun yang langsung ikut memasukkan pakaiannya, mengatakan jika dirinya-lah yang akan menjemur semuanya nanti. Eun Jae pun menyetujui hal tersebut. Namun, pada akhirnya terpaksa dirinya-lah yang harus menjemur semua pakaian itu. Karena, Yi Na menegurnya untuk tidak menyimpan pakaian lama-lama di mesin cuci, ‘masih ada orang lain yang ingin menggunakannya’

Eun Jae tentunya kesal, namun apa boleh buat, ia tak mampu mengatakan yang sebenarnya dan memilih untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh Ye Eun.

Lama-lama, Eun Jae mulai frustasi. Ia mencoba menulis post-it balasan untuk Jin Myung. Namun, ia terus gagal dan mencoet lagi tulisannya. Hingga perhatiannya tersita oleh suara gaduh dari perdebatan antara Yi Na dan Ye Eun.

Apa apakah gerangan??? Ternyata, Yi Na mendapati pakaian mahal yang baru dikenakannya sekali telah tergantung di jemuran, itu menandakan jika seseorang telah memakaianya dan ia meyakini jika orang itu adalah Ye Eun. Dengan polosnya, Eun Jae menghampiri mereka dan membenarkan hal tersebut. Karena tadi Ye Eun sendiri-lah yang memasukkan baju tersebut kedalam mesin cuci.

Mendengar pengakuan itu, langsung membuat Yi Na geram. Tanpa ragu, ia lansgung menjambak Ye Eun dan mereka pun berkelahi, saling gigit dan saling tendang. Eun Jae berusaha untuk melerainya namun ia malah kena tendang juga beberapa kali.

Beralih ke kampus, kita melihat Jin Myung sedang makan siang sendirian. Tiba-tiba dari jauh, muncul perempuan penari ballet yang kita lihat di foto sebelumnya. Untuk sejenak, mereka saling menatap. Namun, perempuan itu lansgung memlingkan wajahnya, sementara Jin Myung memilih untuk menundukan pandangannya, bertingkah seakan-akan tak mengenalnya.

Eun Jae masuk kelas, ia melihat salah seorang perempuan yang duduk diampingnya menggunakan pulpen yang persis dengan yang waktu itu ia pinjamkan. Ia pun bertaya, darimana perempuan itu mendapatkan pulpen tersebut. Dengan santai, ia menjawab jika dirinya menemukannya tergeletak di ruangan klub-nya.

Eun Jae melihat melihat kebelakang, tepat ke arah senior lelaki bernama Yoon Jong Yeol (Shin Hyun Soo) yang waktu itu meminjam pulpen dan tak dikembalikan kepadanya.

Kebetulan, hari ini materi kuliahnya mengenai penempatan diri. Sedikitnya, ia mendaatkan pencerahan jika dirinya meang tak bisa selalu diam, ia harus mengungkapkan perasaannya jika ingin dihargai dan mendapatkan posisi diantara yang lainnya.

Ketika kelas berakhir, Eun Jae memberanikan diri untuk mempraktekan hal yang barusan dipelajarinya. Ia mencegat langkah Jong Yeol, menagih pulpennya supaya dikembalikan. Jong Yeol sendiri hanya terdiam heran, ia menganggukan kepalanya namun sepertinya tak mengingat pulpen apa yang dimaksud oleh Eun Jae.

Pulang kerumah, Eun Jae melihat Yi Na, Ye Eun dan Jin Myung duduk bersama di meja makan. Padahal baru kemarin mereka bertengkar, tapi sekarang sudah akur lagi. Eun Jae membuka kulkas, kesal ketika melihat satu toples selanya telah habis.

Ia menarik nafasnya dalam-dalam, hendak mengungkapkan kekesalannya.  Ia memang mengungkapkannya. Namun, pada akhirnya ialah orang yang meminta maaf dan menundukkan kepalanya lagi karena tak bisa melawan perkataan dari orang-orang yang lebih dominan dibandingkannya.

Malam harinya, lagi-lagi Eun Jae mendapat mimpi buruk yang sama. Masih belum bisa dipastikan, apa isi dari mimpi tersebut.

Keesokan harinya, masih sama berat untuk Eun Jae. Lagi-lagi, kepalanya harus tersenggol tas penumpang yang sedang berdiri. Di kampus, ia pun tak banyak berbicara dan hanya diam saja. Lagi-lagi, Jong Yeol berada di kelas yang sama dengannya, yang menandakan jika kemungkinan besar mereka berada di jurusan yang sama, yaitu Psikologi.

Diluar hujan, Eun Jae hendak pergi ke perpustakaan, dan kebetulan berpapasan dengan Ye Eun yang sama-sama ingin pergi ke sana juga. Tiba-tiba, ponsel Ye Eun berbunyi, pacarnya menelpon, mengajaknya bertemu di depan gerbang. Ia pun menitipkan tasnya, sekaligus meminta Eun Jae untuk mencarikan tempat untuknya.

Eun Jae tak bisa menolak, padahal sudah tertulis jelas pengumuman bahwa di perpustakaan dilarang keras membooking tempat untuk seseorang. Cukup lama menunggu Ye Eun tak muncul juga padahal sudah datang beberapa orang yang menatap sinis ke tempat kosong itu hingga akhirnya mucul seorang perempuan yang tanpa izin, lansgung mengambil tas Ye Eun dan menaruhnya di meja resepsionis.

Lantas kemana Ye Eun?? Tanpa penjelasan apapun, ternyata ia sedang bersenang-senang di kafe bersama pacarnya. Eun Jae berkali-kali mengiriminya pesan. Namun Ye Eun mengabaikannya, karena sedang asyik berduaan dengan sang pacar.

Eun Jae membasuh wajahnya ke toilet. Kebetulan, wanita penari ballet berdiri disampingnya. Meskipun agak canggung, Eun Jae menyapa wanita itu sekaligus bertanya mengapa wanita itu pindah dari ‘Belle Epoque’. Mendengar hal tersebut, bola mata wanita itu lansgung membesar. “Ummmm.. tidak ada apa-apa..” ujarnya yang lansgung pergi dengan tergesa-gesa.

Karena hari sudah larut, Eun Jae memutuskan untuk pulang. Tak lupa, ia mengambilkan tas Ye Eun yang membuatnya harus dimarahi oleh petugas perpustakaan. Sesampainya dirumah, ia langsung emosi… Yeu Eun sedari tadi tak muncul, sekarang sedang tertawa cekikikan di meja makan, sambil menonton acara komedi bersama yang lainnya.

Eun Jae melemparkan buku-buku Ye Eun dilantai dan melemparkan tas Ye Eun dari jendela.  Ia tak kuat lagi menahan emosinya, ia pun meluapkannya dengan menangis dan berteriak mengungkapkan kemarahan dan kekesalannya terhadap semua penghuni di tempat ini, “Aku tak kuat tinggal disini! Ini benar-benar sulit untukku!!!!!”

Yang lainnya, hanya terdiam. Mereka heran (takjub?) melihat kondisi Eun Jae yang tiba-tiba meledak seperti ini. Eun Jae sendiri lasgung masuk ke kamar, menjatuhkan dirinya ke atas kasur dan menangis histeris sekeras yang ia bisa.

Ditengah malam, samar-samar Eun Jae tebangun. Nampaknya, ia mengalami demam, dan teman-temannya dibuat rusuh untuk mencari obat-obatan. Ia tak sadar sepenuhnya, namun ia melihat Yi Na, Ye Eun dan Jin Myung panik mengurusinya.

Kesokan paginya, semua penghuni sedang bersih-bersih, mereka saling bagi tugas dan mengerjakan bagiannya masing-masing. Eun Jae terbangun dari tidurnya, ia mengingat kejadian semalam, ia merasa sangat amat malu. Namun, ia kebelet pipis, sempat menahan diri di kamar, akhirnya ia tak kuat lagi dan langsung berjalan keluar sembari menyapa yang lainnya.

Ia tersenyum kelu, berjalan kearah toilet yang kebetulan sedang dibersihkan oleh Ye Eun. “Umm.. permisi, aakah aku boleh menggunakan toiletnya?”

Ye Eun mengangguk, ia keluar dan mempersilahkan Eun Jae untuk masuk. Dari luar, yang lainnya tersenyum geli karena mengetahui dengan jelas jika sebelumnya Eun Jae menahannya cukup lama.

Selanjutnya, mereka semua makan ramen. Eun Jae keluar dari kamarnya dan ditawari untuk makan bersama, Ye Eun dengan jelas mencegahnya, mengatakan jika Eun Jae tak boleh makan ramen.

“Dia demam… dia harus makan bubur…” ujar Ye Eun yang langsung menghangatkan sebungkus bubur instant.

Mereka duduk bersama, dengan sangat perhatian Ye Eun meminta Eun Jae untuk meminum obatnya setelah makan.

Sebenarnya, beruntunglah karena semalam trjadi kejadian seperti itu. Sekarang, mereka jadi lebih terbuka satu sama lain. Jin Myung menyarankan Eun Jae untuk mengungkapkan kekesalannya saat itu juga, bukan memendamnya dan meledakannya di satu saat sekaligus seperti tadi malam.

Eun Jae tersenyum nyinyir, meminta maaf atas kelakuannya. Mulai dari sekarang, apapun yang mengganjal pikirannya, akan lansgung ia ungkapkan…

Kejadian ini membuat perasaannya lebih tenang. Perlahan, sudut pandangnya pun mulai berubah. Ternyata, bukan hanya dirinya yang merasa tak nyaman oleh ulah orang lain. Mereka pun merasakan hal yang tak nyaman karenanya, namun mereka tak mengungkapkannya karena itu hal kecil.

Ye Eun seringkali dibuat terganggu oleh suara keras Eun Jae saat mengetik. Dan Yi Na, seringkali harus menahan kebelet karena Eun Jae terlalu lama saat berada di toilet. Bahkan, Jin Myung-pun tak begitu saja ketika menuliskan post-itu untuk Eun Jae. Seringkali, Jin Myung mencoret tulisannya dan kebingungan untuk mencari kata-kata yang pas.


“Aku fikir,… dengan mengatakannya tak akan ada yang berubah. Aku takut dibenci jika aku mengatakannya. Aku rasa mereka akan menertawakanku. Aku kira mereka akan mengabaikanku, tak memperdulikanku. Ternyata,.. aku telah salah….”

= Eun Jae =


Ketika naik bus, wajah Eun Jae lagi-lagi tersenggol tas seseorang. Kali ini, ia tak mau diam saja. Dengan memberanikan dirinya, ia menegur pria tersebut. Dan hasilnya? Pria itu lansgung meminta maaf dan menaruh tasnya di bawah.

Sesampainya di kampus, ia langsung masuk kelas dan duduk di tempatnya. Datanglah Jong Yeol, yang langsung menghampirinya dan mengembalikan pulpen kuning yang ditagihnya kemarin. Tak banyak obrolan, Jong Yeol pun lansgung duduk di kursi yang berada di depannya.

Beberapa kemudian, Jong Yeol meliriknya, bertanya, “Siapa namamu???”

———————————————————————–

Eun Jae pergi ke supermarket, ia membeli sepasang slipper yang harganya paling murah. Pulang kerumahnya ia langsung mengenakan slipper tersebut. Dan dari dalam, terdengar suara tawa yang lainnya.

Duduk seorang perempuan yang baru dilihatnya. Yupsss, dia adalah Song Ji Won (Park Eun Bin), perempuan yang tidur sekamar dengan Ye Eun.

Ia memiliki sifat yang sangat ceria dan terbuka. Tanpa canggung, ia langsung menyapa Eun Jae, seakan-akan menyapa teman yang sudah lama dikenalnya. Hal itu membuat Eun Jae merasa tersentuh dan lebih diterima di tempat ini.

Mereka duduk bersama, Ji Won adalah sosok orang yang dapat dengan mudah mencairkan suasana. Ternyata, ia sangat tergila-gila untuk mempunyai seorang pacar. Karena sampai detik ini, belum ada pria yang mau menjadi pacarnya. Sengaja, ia bertanya pada Eun Jae mengenai saudara laki-lakinya. Namun Eun Jae memberikan jawaban yang mengecewakan, ia tak punya kakak dan pamannya yang paling muda sudah berusia 40 tahun.

Ji won mengangguk faham. Selanjutnya ia meminta Eun Jae untuk bertanya tentang hal apapun kepadanya. Eun Jae terdiam sejenak, kemudian ia menanyakan penyebab perempuan penari ballet pindah dari tempat dini..

Lagi-lagi… pertanyaan itu membuat suasana jadi kikuk. Ji won menjawabya dengan mangatakan jika perempuan itu hamil, makanya diusir. Namun, dari ekpresi Ye Eun dan Yi Na, kita mengetahui jika masih ada sesuatu lain yang berhubungan dengan perempuan itu.

Yi Na penasaran mengapa Eun Jae sangat penasaran akan hal itu, “Jangan.. jangan.. kamu fikir, dia pindah karena kita mem-bully-nya???”

Eun Jae tersenyum, menandakan jika dirinya memang berfikiran demikian. Yang lainnya hanya bisa tertawa mengetahui pemikiran Eun Jae tersebut.

Ji Won mengalihkan pembicaraan, ia mengajak mereka semua untuk bermain membongkar rahasia, agar mereka bisa lebih dekat dan saling percaya satu sama lain.

Beberapa saat kemudian, Jin Myung pulang dengan membawa beberapa kaleng bir. Namun saat masuk, yang lainnya terlihat telah mabuk berat. Hanya ada Eun Jae yang terlihat masih ‘agak’ sadar. Dengan suara sangaunya, ia menceritakan beberapa rahasia yang diungkaplan oleh mereka satu sama lainnya: Yi Na yang berkencan dengan beberapa pria sekaligus, kemudian melalukan operasi mata namun ia meyakinkan jika dadanya sama sekali bukanlah hasil operasi. Kemudian, Ye Eun yang berat badannya hampir mencapai  63 kilogram. Dan Ji Won, yang belum pernah berhasil mendapat pacar, meskipun telah kencan bekali-kali.

Terdengar suara narasi Eun Jae yang mengatakan jika ada dua jenis rahasia, yaitu yang bisa diungkapkan dan yang tidak akan pernah bisa diungkapkan.

Fakta jika dirinya telah minum alkohol semenjak SMP adalah jenis rahasianya yang bisa diungkapkan. Sementara rahasia yang tak pernah bisa diungkapkannya adalah…. “…membunuh seseorang…” (?????)

Dari tengah keheningan, Ji Won tiba-tiba terbangun. Ia mengungkapkan fakta jika sebenarnya ia bisa melihat hantu. Jarinya menunjuk ke arah loker dibawah rak sepatu, “Disana ada hantu…” ujarnya

Semua orang seakan mengabaikan perkataan tersebut, Yi Na tiba-tiba berkata, “Aku fikir aku telah membunuh mereka waktu itu..”. Dan Jin Myung, ia mengatakan jika ada seseorang yang ia harap mati.

Eun Jae kebingungan, “Mereka semua aneh.. Benar-benar aneh…”

Satu persatu dari mereka masuk ke kamarnya untuk tidur. Kali ini,… mimpi buruk Eun Jae dicampuri oleh sebersit bayangan kehadiran Jin Myung dan Yi Na…

Episode ini berakhir ketika kamera menyorot loker yang disebut-sebut ditempati hantu yang dikatakan oleh Ji Won tadi….

== Bersambung ==

:::: NOTES ::::

Menurutku ini seru bangettt, kalau readers yang perempuan, pastinya faham sama karakteristik semua karakter disini. Bahkan mungkin, seringkali kalian bilang ‘Ini gue banget…’, iya nggak???

Secara keseluruhan, episode perdana ini membahas semuanya dari sudut pandang Eun Jae (Park Hye Soo). Perempuan penakut,.. pemalu,… ragu-ragu,.. tapi di ending dikasih spoiler, kalau dia itu ‘pembunuh’. Serius? Masa sih?

Akupun langsung kaget begitu nonton bagian itu. Eun Jae membunuh seseorang??? Tapi agak masuk akal sih, karena dia selalu mimpi buruk yang isinya selalu sama, dan dari drama-drama yang aku tonton sebelumnya isi mimpi itu biasanya kejadian traumatis yang tidak pernah bisa dilupakannya.

Aku faham bangett sifat penakut Eun Jae, karena dulu akupun demikian. Seringkali aku tertindas, tapi lebih memilih buat diem dan bilang ‘gak apa-apa, kok’. Hal itu mulai berubah pas aku kuliah, sadar deh kalian yang setipe sama Eun Jae, gak ada salahnya kok mengungkapkan rasa ‘sebel’ sama orang lain.

Dan kebetulan, akupun sadar kalau kelakuan aku tuh salah, setelah aku ‘meledak’ dan berantem hebat sama temenku. Emang sih, hubungan diantara kalian bakal rada memanas, tapi tunggu aja beberapa saat dan berusaha untuk biasa lagi. Minta maaf duluan, gak usah malu atau gengsi. Meskipun awalnya orang itu nyuekin kita, lama-lama beriringan dengan berjalannya waktu semuanya bakal baik-baik aja, dan kalian jadi lebih mengerti satu sama lain. (Itu sedikit tips dari saya…)

Ohiya.. sebenarnya aku jadi agak bingung setelah lihat scene di akhir episode ini. Yang awalnya aku ngira drama ini ceritanya bakalan ringan dan ceria jadi berubah ke misteri dan thriller yaa??? Pembunuhan… hantu… apa maksudnya? Apa hubungannya?

Drama ini terlalu jujur dalam mengungkapkan seluk beluk, tipe-tipe sifatnya perempuan. Aku tuh suka bangettt nonton ini, tapi temen-temenku kebanyakan lagi demam drama ‘W’ dan aku belum sempet nonton itu. Jadinya, gak ada yang bisa aku ajak sharing tentang drama ini, makanya mendingan aku sharing sama readers blog-ku aja, hehehehehe,…

>>> Episode 2 <<<

Advertisements

20 thoughts on “AGE OF YOUTH EPISODE 1

  1. Hi, Lia, ternyata nulis drama ini ya… Sy ga nonton sih, tapi dari sinopsisnya ayaknya drama ini mengingatkan sy jaman2 kostan dulu yang serumah isinya ber-7. Tiba-tiba aja kangen masa-masa itu… 😦

    Like

    • Iyaaa bangett, makanya kata aku ini recomended nihh. Gatau kenapa, dibandingkan W atau Uncontrollably Fond yang lagi nge-Hitzz.. Aku malah lebih asyik nontn drama ini. Ceritanya real banget, berasa nonton kelakuan diri sendiri gitudeh 😀

      Like

  2. HAHAHAHAHAHA I LIKE YOU LIAAAAAAAAA
    Baru juga mau ngerecokin lia sama drama ini eh ternyata udah kesentil duluan awwww
    Emang deh, ngeliat drama jni vibenya relatable ya sama kayak hae young, cuma bedanya hae young tuh buat paruh baya dan ini buay kita kita. Romance storynya juga ga kalah bikin baper ala anak kuliahan lol
    Ga salah kok banyak yang suka dan banyak peminat online jg yah meski itu bukan temen temen kita ya lia wkwkwk
    Lets fightnya ttp lanjut ga lia? Hehe
    Kalo saya lagi ngikutin ini jg sih sama uf. Suka sama gaya swnim nyeritainnya. Kalo w entah baru the three musketeers sama nine karya swnim yang cocok sama saya. Dan kayaknya emang lagi suka drama melo kali ya :p

    Like

    • I LIKE YOU too……

      Iya, aku kemaren berhenti nulis beberapa hari. Tertarik pengen nonton ini dan lansgung kesemsem bangetttt. Rasanya, meruntuhkan kecintaan aku sama Let’s Fight Ghost. Palingan nantinya aku mau recap per-2 episode aja itu mah ah… Pengen mengungkapkan komentar-komentar aku aja. Da yang nge-sinopsis drama itumah udah banyak, wkwkwkwkwk…

      Saya mah gak ngikutik UF atau W, waktu itu ketinggalan dan jadinya memutuskan untuk nonton semuanya pas udah tamat aja, heheheheh…
      Aslii, drama ini banyak bikin baper-nyaa, apalagi kalau ngikutin kisah cintanya Eun Jae ama seniornya. Sayang nih, drama ini kurang nge-HITZ, di korea aja rattingnya melempem. Padahal, komentar-komentar di internet banyak yang muji banget ke-realistis-an drama ini.

      Like

      • Udah stabil kok
        Tayang di tv kabel dengan tema anak muda gini emang wajar dapet segitu…
        Ceritanya sederhana jadi ya biasa jg ratingnya haha
        Setuju mah sama lia. Ini aja gapapa wkwkwk

        Like

  3. Pingback: AGE OF YOUTH EPISODE 2 | my-eternalstory

  4. Pingback: Sinopsis Age Of Youth Episode 1 - Terakhir « Kdramastory

  5. Pingback: SINOPSIS Age of Youth Episode 1 - Terakhir (Lengkap)

  6. Pingback: SINOPSIS Age of Youth Episode 1 - Terakhir (TAMAT)

  7. Akhirnya di post juga sinopsis age of youth, nungguin banget sinopsisnyaaa 😂😂

    Semangat yaaaaaaah nulis sinopsisnya sampe episode12 😚😚
    Sehat selalu yaaaah 😄

    Like

  8. Pingback: Sinopsis Drama Korea Age of Youth Episode Lengkap – Sumber Informasi

  9. Drama Ini Sangat Menarik Bagi Saya karena 5 Gadis ini tinggal satu rumah meskipun mempunyai karakternya masing-masing

    Like

Ayo tinggalkan jejakmu :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s